Jogja mempunyai begitu banyak tempat wisata, termasuk wisata pantai. Kalau ditanya, pantai apa saja yang Anda tahu di kota pelajar ini? Pasti kata pertama adalah Parangtritis.
Ya, memang tidak salah karena Parangtritis memang pantai yang cukup terkenal di sana. Mungkin ada juga yang menyebutkan pantai Depok, Baron, Kukup, Drini, atau Indrayanti. Empat yang disebut terakhir adalah beberapa pantai indah dari sekian banyak pantai di Gunungkidul.
Kali ini saya akan mencoba berbagi tentang sesuatu yang menarik di antara pantai-pantai indah itu, di mana 29 Juni 2014 yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana.
Berangkat dari Jogja, mbah Cokro “setres”, mengantar kami menuju pesisir selatan Gunungkidul.
Kami melewati perbukitan yang penuh tanjakan dan turunan tajam, serta kelokan-kelokan yang sepertinya tak ada habisnya. Persis di bukit Patuk, di sisi sebelah kanan jalan tampak view Jogja dari atas. Barisan rumah penduduk, persawahan, pepohonan, jalan-jalan yang tidak terlalu padat, serta pemandangan lainnya tampak padu dan indah. Beruntung sekali cuaca cerah sehingga kami bisa mengambil gambar cukup bagus. Padahal sehari sebelumnya cuaca mendung, bahkan siang sampai sore hujan cukup deras.
Setelah menempuh perjalanan kira-kira 1.5 jam, akhirnya sampailah kami di daerah Paliyan.
Kami mampir dulu ke gua Maria Tritis sebentar sebelum melanjutkan perjalanan menuju pantai.
Sebenarnya kami tidak berencana ke pantai Baron, tetapi siang itu perut sudah keroncongan, maka kami putuskan untuk ke sana terlebih dahulu, untuk bisa segera menikmati santap siang. Selepas mengisi perut, barulah kami menuju pantai berikutnya.
Tadinya, kami ingin ke pantai Sepanjang atau Drini, tetapi mbah Cokro malah mengarahkan mobil menuju jalan berbatu dengan penunjuk “watu kodok”. Kami bertanya-tanya, apa sih bagusnya ke sini? Jalan masuknya aja berbatu-batu, nanjak pula! Sempat terpikir, apa kami turun dari mobil saja ya, soalnya agak curam turunan sebelum sampai ke tempat itu (agak lebay sih :p ).
Begitu sampai di sana, pertanyaan kami terjawab. Seperti inilah pantai Watu Kodok siang itu.
Pantai ini tidak terlalu luas dan belum banyak terjamah, maka tak mengherankan pantainya masih sangat bersih dan indah. Seperti layaknya pantai laut selatan Jawa, kami langsung disambut dengan debur ombak dan angin pantai yang begitu kencang. Cuaca cukup terik siang itu namun kuatnya hembusan angin membuat kami tak merasa gerah. Sesekali kami turun untuk merasakan debur ombak dan buihnya saat menyapu putihnya pasir. Hmmm..segar.... Rasanya jadi ingin berlama-lama di sana.
Di pinggir pantai ada beberapa bangunan kecil yang terbuat dari bambu, beratapkan dedaunan kering untuk sekedar duduk-duduk menikmati pemandangan dan musik pantai. Aaah, sayang..kemarin lupa ngambil gambarnya :( .
Tak jauh dari muka pantai, di seberang jalan dan tanah kosong, terdapat beberapa bangunan rumah yang terbuat dari kayu, yang dibangun agak tinggi. Semula kami mengira itu semacam pondok atau rumah sewa yang masih dalam tahap pembangunan tetapi ternyata bukan. Kalau mbah Cokro tidak mengajak kami mampir ke sana, karena kebetulan mas Bintang salah seorang temannya tinggal di sana, mungkin kami akan kehilangan kesempatan untuk melihat sesuatu yang menarik dari sana.
Site yang kami kunjungi ternyata adalah sebuah pusat pendidikan lingkungan hidup yang dikelola oleh Ocean of Life Indonesia (OLI). OLI adalah komunitas lingkungan hidup yang bersifat non-profit yang berfokus pada kegiatan pendidikan lingkungan untuk anak-anak, gerakan pembersihan pantai, dan daur ulang produk.
Ocean of Life sendiri ada dua, satu di Indonesia, dan yang lainnya ada di Swiss. Ocean of Life yang berada di Swiss lebih banyak melakukan penghimpunan dana charity dari donatur-donatur untuk pengembangan infrastruktur center.
Kami berkenalan dengan mas Bintang, mba Ani, dan kru lainnya yang ikut aktif mengelola tempat ini. Beberapa kegiatan yang mereka lakukan antara lain pembelajaran pariwisata berbasis lingkungan dan gaya hidup ramah lingkungan, pemetaan ekosistem laut, pemetaan potensi sumber daya alam, dan percontohan energi alternatif di Gunungkidul.



Salah satu kegiatan edukasi lingkungan yang dilakukan yaitu mengundang dan memfasilitasi siswa-siswa SD di daerah setempat untuk bersama-sama belajar dan menumbuhkan kesadaran pada lingkungannya. Mereka memperkenalkan tentang makanan dan kesehatan, tentang makanan yang bisa dimasak di rumah tidak hanya untuk kesehatan, tetapi juga untuk mengurangi sampah. Mereka memberikan penekanan tentang kerusakan yang timbul akibat sampah misalnya kerusakan lahan di sekitar sekolah mereka.
Anak-anak diajarkan tentang memupuk tanah pertanian dengan pupuk organik daripada pupuk buatan, memanfaatkan kotoran ternak (sapi) untuk diolah sebagai biogas bahan bakar untuk memasak, filtrasi (penyaringan) air hujan untuk bisa dimanfaatkan sebagai air minum, serta sistem air abu-abu untuk irigasi. Semua yang diajarkan, dapat dilihat miniaturnya ataupun secara langsung karena apa yang disampaikan, sudah diterapkan di kawasan OLI.
Sesuai dengan misi Ocean of Life, “menciptakan kehidupan yang berkelanjutan bagi manusia dan alam”, semoga apa yang sudah dilakukan oleh teman-teman yang berdedikasi di OLI menjadi inspirasi bagi semua orang untuk semakin menyadari dan peduli pada lingkungan hidupnya.
Masih banyak yang ingin kami pelajari dan nikmati dari tempat ini, namun sepertinya senja sudah melambai-lambai mengajak kami pulang. Sungguh pengalaman berharga bisa mengunjungi tempat ini. Semoga lain waktu bisa ke sana lagi.
See you again..
*Oya, makasih untuk seduhan teh mint nya ya.. Sueegeerr naan... :)








Komentar