Langsung ke konten utama

SEBERAPA TINGGIKAH ?

Siapakah di antara kita yang ingin sukses dan berhasil dalam hidup ? Saya kira semua orang menginginkan demikian.

Lalu, apa yang menjadi ukuran untuk dikatakan sukses dan berhasil dalam hidup ?

  • Sudah mempunyai rumah sendiri
  • Sudah mempunyai mobil pribadi
  • Sudah menjadi kepala bagian
  • Sudah mengepalai beberapa perusahaan, dsb.

Apakah demikian ukuran kesuksesan bagi Anda ?

Atau begini :

  • Saya akan merasa berhasil jika posisi saya sudah di atas si ”A”
  • Saya akan merasa berhasil jika kekayaan saya lebih besar daripada orang terkaya di Indonesia
  • Saya akan merasa berhasil jika saya mencapai prestasi yang lebih tinggi daripada rekan kerja/sekolah

Saya kira setiap orang bebas untuk menentukan ukuran kesuksesan yang tepat bagi dirinya sendiri. Menjadi sukses (menurut pandangan individual) akan membuat orang menjadi bahagia. Tetapi, apakah sukses harus diartikan seperti yang sudah disebutkan di atas ? Bagaimana jika akhirnya posisi saya tidak berada di atas si ”A”, atau kekayaan saya tidak lebih besar daripada orang terkaya di Indonesia, atau prestasi saya tidak lebih tinggi daripada rekan kerja/sekolah ? Bukankah jika demikian kita akan menjadi tidak bahagia ?



Sukses sebaiknya tidak didasarkan pada hal-hal yang bertumpu/bersandar pada orang lain, tetapi didasarkan pada diri sendiri.

Seekor jangkrik bertemu dengan seekor kucing. Jangkrik melihat kucing meloncat saat menangkap cicak di pohon. ”Wah, hebat sekali kucing itu”, begitu pikir jangkrik. ”Aku akan mengajaknya berlomba melompat. Siapa yang paling tinggi melompat, dialah pemenangnya. Sepertinya akan sangat menyenangkan bisa mengalahkah lompatan kucing itu. Jangkrik dan kucing pun kemudian sepakat untuk berlomba melompat pada hari Minggu berikutnya. Jangkrik berlatih keras selama berhari-hari untuk bisa memenangkan perlombaan itu.

Akhirnya tibalah hari perlombaan... Jangkrik dan kucing bersiap siap untuk melompat, sementara kodok menjadi juri pertandingan. Tikus memberi aba-aba... Satu... Dua ... Tiga...

Jangkrik melompat dengan sekuat tenaga. Begitu juga dengan kucing. Meskipun telah mengerahkan sekuat tenaga, jangkrik hanya bisa melompat setinggi lutut orang dewasa, sementara kucing yang melompat tanpa mengerahkan seluruh tenaganya, mampu melompat setinggi 1 meter. Meskipun demikian, jangkrik tidak merasa gagal dalam perlombaan itu.

Kita dapat berkesimpulan bahwa jangkrik tersebut kalah dalam perlombaan.

Namun, coba kita perhatikan. Jangkrik memang tidak bisa melompat melebihi lompatan kucing, tetapi tinggi lompatannya ternyata mencapai 20 kali panjang badannya, sementara lompatan kucing tidak sampai 5 kali panjang tubuhnya.

Sukses dapat diartikan kita telah melampaui ukuran kita sendiri, bukan ukuran orang lain, bukan atas sesuatu yang dicapai orang lain. Meskipun posisi kita (mungkin) tidak lebih tinggi daripada orang lain, bukan berarti kita tidak mencapai kesuksesan. Seberapa tinggikah kita telah melompat ?

Marilah kita melompat melampaui lompatan kita sendiri..

Komentar

Anonim mengatakan…
mmhhh...
agak sedikit ruwet...
well, menurutmu seberapa sukseskah itu ga tergantung sudut pandang dari orang lain???
mmhhh...
aku punya cara pandang yg beda...
ketika kamu hidup, apa visimu??
aku mgkin orang yg paling sdhana mmandang ttg visi..
entah jenis manusia apa aku ini.. (^^)
org di dunia ini sibuk mengisi kehidupannya dgn hal2 yg bisa menghidupi mereka di dunia.. yaa...itu realistis...
(wah nt topiknya bs meluas nie..cut aj deh...)
tapi aku...
aku hny ingin menjalani hidupku yg tak tentu berapa lama ini, buat orang lain..
sukses seorang aku, adalah ketika melihat orang-orang yang ada di sekelilingku bahagia. Thats it..
dan ketika mereka bahagia akupun bahagia..
apa yg bikin mereka bahagia, itu yg menggerakkan aku melakukan apapun..
semua jadi mungkin, kalo kita punya niat baik. tidak ada yg mustahil..
en itu yg buat aku hidup hingga saat ini...
so...kesuksesan yg km sebutin di atas bisa jadi bervariasi untuk tiap2 orang, tergantung dari visi kehidupan yg dianut masing-masing pribadi...
buat aku..
hidup tuh peziarahan...
ada satu senyum tiap hari..
satu harapan..
satu pujian..
satu kebanggaan...
akan ke'suksesan' kita mnurut mereka...
akan jadi satu hirupan nafas
yg menghidupkan hidupku...

(uh..rumitz!!)
Unknown mengatakan…
itulah bedanya kepuasan dengan kebanggan...
kepuasan tercapai dari diri kita sendiri..
kebanggan tercapai bila ada orang lain yang melihat..

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Watukodok dan OLI

Jogja mempunyai begitu banyak tempat wisata, termasuk wisata pantai. Kalau ditanya, pantai apa saja yang Anda tahu di kota pelajar ini? Pasti kata pertama adalah Parangtritis. Ya, memang tidak salah karena Parangtritis memang pantai yang cukup terkenal di sana. Mungkin ada juga yang menyebutkan pantai Depok, Baron, Kukup, Drini, atau Indrayanti. Empat yang disebut terakhir adalah beberapa pantai indah dari sekian banyak pantai di Gunungkidul. Kali ini saya akan mencoba berbagi tentang sesuatu yang menarik di antara pantai-pantai indah itu, di mana 29 Juni 2014 yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Berangkat dari Jogja, mbah Cokro “setres”, mengantar kami menuju pesisir selatan Gunungkidul.  Kami melewati perbukitan yang penuh tanjakan dan turunan tajam, serta kelokan-kelokan yang sepertinya tak ada habisnya. Persis di bukit Patuk, di sisi sebelah kanan jalan tampak view Jogja dari atas. Barisan rumah penduduk, persawahan, pepohonan, jalan-jal...

Begini cara membuat tablet

Hey friends... Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tentang cara membuat tablet. Ya, tablet. Tapi tolong jangan dulu berpikir tentang prosesor, RAM, memori intenal, resolusi kamera, dimensi layar, dsb. Singkirkan segala yang berhubungan dengan gadget karena yang akan saya bicarakan di sini adalah tablet yang biasa kita minum kalau sedang sakit. Pada umumnya, sebagian besar tablet mengandung lebih sedikit bahan aktif jika dibandingkan bahan penolongnya (baca: eksipien). Sebagai contoh, misalnya tablet CTM 4 mg dibuat menjadi tablet dengan bobot total 1 0 0 mg. Mengapa begitu? Volume 4 mg CTM itu sangat kecil, kira-kira hanya ½ dari sebutir beras. Bisa dibayangkan, bagaimana cara mencetak serbuk sesedikit itu. Oleh karena itu lah ditambahkan eksipien agar jumlahnya mencukupi untuk bisa dicetak. Di sini kita akan menggunakan salah satu metode pembuatan tablet dengan cara granulasi basah. Apakah itu? Secara sederhana, granulasi adalah proses untuk menghasilkan granu...