Siapakah di antara kita yang tidak pernah merasa takut di dalam hidup ? ketakutan yang kecil sekalipun ? Sekuat apapun manusia, tentu ada kalanya ia merasa takut.
Hati manusia itu lemah. Ia bisa lembut, bahagia, bersukacita, namun bisa juag menjadi marah, sedih, dan menangis. Bahkan, seorang tentara pun bisa menangis
Saya pernah menonton film yang melibatkan peran sebagai seorang prajurit bersenjata. Badannya tinggi, besar, bersuara lantang, dan terlihat sekali keberanian di wajahnya. Jika ada pertempuran dia akan maju tanpa rasa takut. Dia seakan tidak gentar ketika harus berjuang di antara desingan peluru, ledakan granat, serta dentuman meriam.
Suatu ketika ia sedang bertugas, terjadi suatu peristiwa serangan yang melibatkan keluarganya. Ia sendiri selamat namun tidak demikian dengan istri dan putri kesayangannya.
Ia berontak terhadap keadaan namun akhirnya ia menyerah dan menangis. Ia telah terbiasa maju di medan pertempuran, namun ternyata ia tidak mampu melindungi keluarganya sendiri. Badannya yang besar itu pun tak mampu menutupi kenyataan bahwa ia sungguh amat sedih dan kehilangan.
Hati manusia memang sungguh lemah.
Adanya perubahan dalam hidup kadangkala merupakan suatu pengalaman yang menyiksa diri dan pikiran kita. Kecemasan atas sesuatu yang akan terjadi terus menghantui pikiran dan membuat kita berhenti, hanya bergerak di tempat, dan tidak berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Kita tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik, namun justru kita sendiri menghadapi ketakutan untuk menuju ke sana. Saya ingin lulus kuliah dengan baik, saya ingin menjadi pemimpin, saya ingin menjadi menteri/presiden, saya ingin menjadi milyuner, dsb. Namun, proses seperti apa yang akan kita hadapi untuk sampai ke sana? Apakah yang harus aku lakukan ? Apakah itu akan menyenangkan ?
Seringkali selama berproses, kita merasa bingung dan takut untuk mengambil keputusan, apalagi jika hal itu menyangkut sesuatu yang besar. Dan hal yang paling buruk yang mungkin terjadi adalah kita tidak membuat keputusan. Kita takut bahwa keputusan itu salah, dan itu terus menghantui pikiran kita sehingga kita kemudian hanya diam di tempat.
Jika kita ditanya,”Siapa yang ingin maju dan berbicara di depan? Ya, kamu yang berbaju biru silahkan maju !” Deg..jantung serasa berhenti. Lebih baik mati saja dari pada disuruh ke depan (maka dalam hati kadang ada yang berkata, matilah aku). Lalu apa yang akan Anda lakukan ?
Memang benar bahwa tidak selamanya intuisi kita benar. Namun, mengapa kita tidak mencoba mengambil langkah dengan segala konsekuensinya sehingga kita bisa tahu, oh ini salah, oh ini benar. Kalau tidak dilakukan, kita tidak tahu apakah yang kita pikirkan itu memang benar-benar tepat/salah. Toh kalaupun salah, itu bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari situ kita akan belajar untuk lebih baik, tidak hanya berhenti di tempat.
Hati manusia itu, janganlah kita membuatnya semakin lemah dengan kecemasan dan ketakutan kita. Jagalah hati agar kita tetap menjadi manusia yang tegar dan mampu berkarya untuk sesama dan kehidupan yang lebih baik.
Hati manusia itu lemah. Ia bisa lembut, bahagia, bersukacita, namun bisa juag menjadi marah, sedih, dan menangis. Bahkan, seorang tentara pun bisa menangis
Saya pernah menonton film yang melibatkan peran sebagai seorang prajurit bersenjata. Badannya tinggi, besar, bersuara lantang, dan terlihat sekali keberanian di wajahnya. Jika ada pertempuran dia akan maju tanpa rasa takut. Dia seakan tidak gentar ketika harus berjuang di antara desingan peluru, ledakan granat, serta dentuman meriam.
Suatu ketika ia sedang bertugas, terjadi suatu peristiwa serangan yang melibatkan keluarganya. Ia sendiri selamat namun tidak demikian dengan istri dan putri kesayangannya.
Ia berontak terhadap keadaan namun akhirnya ia menyerah dan menangis. Ia telah terbiasa maju di medan pertempuran, namun ternyata ia tidak mampu melindungi keluarganya sendiri. Badannya yang besar itu pun tak mampu menutupi kenyataan bahwa ia sungguh amat sedih dan kehilangan.
Hati manusia memang sungguh lemah.
Adanya perubahan dalam hidup kadangkala merupakan suatu pengalaman yang menyiksa diri dan pikiran kita. Kecemasan atas sesuatu yang akan terjadi terus menghantui pikiran dan membuat kita berhenti, hanya bergerak di tempat, dan tidak berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Kita tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik, namun justru kita sendiri menghadapi ketakutan untuk menuju ke sana. Saya ingin lulus kuliah dengan baik, saya ingin menjadi pemimpin, saya ingin menjadi menteri/presiden, saya ingin menjadi milyuner, dsb. Namun, proses seperti apa yang akan kita hadapi untuk sampai ke sana? Apakah yang harus aku lakukan ? Apakah itu akan menyenangkan ?
Seringkali selama berproses, kita merasa bingung dan takut untuk mengambil keputusan, apalagi jika hal itu menyangkut sesuatu yang besar. Dan hal yang paling buruk yang mungkin terjadi adalah kita tidak membuat keputusan. Kita takut bahwa keputusan itu salah, dan itu terus menghantui pikiran kita sehingga kita kemudian hanya diam di tempat.
Jika kita ditanya,”Siapa yang ingin maju dan berbicara di depan? Ya, kamu yang berbaju biru silahkan maju !” Deg..jantung serasa berhenti. Lebih baik mati saja dari pada disuruh ke depan (maka dalam hati kadang ada yang berkata, matilah aku). Lalu apa yang akan Anda lakukan ?
Memang benar bahwa tidak selamanya intuisi kita benar. Namun, mengapa kita tidak mencoba mengambil langkah dengan segala konsekuensinya sehingga kita bisa tahu, oh ini salah, oh ini benar. Kalau tidak dilakukan, kita tidak tahu apakah yang kita pikirkan itu memang benar-benar tepat/salah. Toh kalaupun salah, itu bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari situ kita akan belajar untuk lebih baik, tidak hanya berhenti di tempat.
Hati manusia itu, janganlah kita membuatnya semakin lemah dengan kecemasan dan ketakutan kita. Jagalah hati agar kita tetap menjadi manusia yang tegar dan mampu berkarya untuk sesama dan kehidupan yang lebih baik.
Komentar
dari rasa khawatir yang berlebihan,
dari rasa takut akan kegagalan,
dari rasa takut kehilangan...
dari rasa pesimis terhadap diri sendiri...
karena itu akan merapuhkan hatimu,
menggoyahkan jiwamu...
damaikanlah dan bersahabatlah dengan nya..
karena hati,
inti dari segalanya...
^.^