Langsung ke konten utama

Disolusi - Absorbsi - Kebesaran Ilahi

Hari ini ada satu topik pembicaraan yang membuatku bertanya-tanya saat di kantor, yaitu tentang disolusi (kelarutan) obat dan kemampuannya untuk diserap tubuh.

Sebagai pedoman umum, syarat suatu obat untuk bisa diserap tubuh adalah harus larut terlebih dahulu dalam cairan tubuh. Umumnya penyerapan terjadi di usus halus. Begitulah sedikit yang masih bisa kuingat dari dosen pengajar saat kuliah farmasi dulu.

Nah, kebetulan ini ada satu senyawa obat yang kelarutannya sangat kecil atau bisa dibilang tidak larut dalam air, bahkan juga tidak larut dalam bermacam-macam pH saluran pencernaan. Jika mengikuti pedoman tadi, maka obat ini tidak akan larut di saluran pencernaan setelah diminum dan akibatnya obat juga tidak akan diserap. (note : larut tidak sama dengan hancur)

Tetapi pada kenyataannya, obat ini bisa berada dalam darah orang yang meminumnya, alias obat ini ternyata diserap tubuh. Kenapa bisa begitu ya? Aku agak heran sambil menduga-duga, mungkin jonjot usus halus yang membantu penyerapannya, atau mungkin cairan empedu yang membantu melarutkannya, atau apa yang lain aku tidak tahu.

Meski belum menemukan penjelasan yang lebih pas, kupikir ini adalah salah satu keunikan dalam fisiologi saluran pencernaan. Oh, alangkah unik dan hebatnya Tuhan menciptakan fisik manusia. Bahkan kita sebagai manusia saja tidak banyak tahu apa yang ada di dalam tubuh kita, apa gunanya, tetapi Ia sudah mengaturnya sedemikian hingga fisiologi kita bisa berjalan normal.

Keunikan dalam penyerapan obat tadi hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak keunikan dan kerumitan lainnya dalam tubuh manusia. Melalui keunikan tadi, aku melihat dan menemukan kebesaran Tuhan dalam diri kita sebagai ciptaan-Nya. Betapa hebat karya Tuhan, sehingga tak ada satupun yang dapat menyamai-Nya.
Dan aku pun yakin, dalam keseharian yang sobatku jalanipun pasti kau juga menemukan kebesaran Ilahi dalam wujud yang lainnya. Dalam hal-hal yang kecil dan sederhanapun kita bisa menemukan kebaikan dan kebesaran Tuhan, jika kita mempunyai mata untuk melihatnya.
:-)

*edisimobileposting

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Watukodok dan OLI

Jogja mempunyai begitu banyak tempat wisata, termasuk wisata pantai. Kalau ditanya, pantai apa saja yang Anda tahu di kota pelajar ini? Pasti kata pertama adalah Parangtritis. Ya, memang tidak salah karena Parangtritis memang pantai yang cukup terkenal di sana. Mungkin ada juga yang menyebutkan pantai Depok, Baron, Kukup, Drini, atau Indrayanti. Empat yang disebut terakhir adalah beberapa pantai indah dari sekian banyak pantai di Gunungkidul. Kali ini saya akan mencoba berbagi tentang sesuatu yang menarik di antara pantai-pantai indah itu, di mana 29 Juni 2014 yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Berangkat dari Jogja, mbah Cokro “setres”, mengantar kami menuju pesisir selatan Gunungkidul.  Kami melewati perbukitan yang penuh tanjakan dan turunan tajam, serta kelokan-kelokan yang sepertinya tak ada habisnya. Persis di bukit Patuk, di sisi sebelah kanan jalan tampak view Jogja dari atas. Barisan rumah penduduk, persawahan, pepohonan, jalan-jal...

Begini cara membuat tablet

Hey friends... Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tentang cara membuat tablet. Ya, tablet. Tapi tolong jangan dulu berpikir tentang prosesor, RAM, memori intenal, resolusi kamera, dimensi layar, dsb. Singkirkan segala yang berhubungan dengan gadget karena yang akan saya bicarakan di sini adalah tablet yang biasa kita minum kalau sedang sakit. Pada umumnya, sebagian besar tablet mengandung lebih sedikit bahan aktif jika dibandingkan bahan penolongnya (baca: eksipien). Sebagai contoh, misalnya tablet CTM 4 mg dibuat menjadi tablet dengan bobot total 1 0 0 mg. Mengapa begitu? Volume 4 mg CTM itu sangat kecil, kira-kira hanya ½ dari sebutir beras. Bisa dibayangkan, bagaimana cara mencetak serbuk sesedikit itu. Oleh karena itu lah ditambahkan eksipien agar jumlahnya mencukupi untuk bisa dicetak. Di sini kita akan menggunakan salah satu metode pembuatan tablet dengan cara granulasi basah. Apakah itu? Secara sederhana, granulasi adalah proses untuk menghasilkan granu...