Langsung ke konten utama

Life is so short (2)

Sinabung berduka..
Jawa digoyang gempa..
Banjir terjadi di mana-mana.
Bahkan sampai ada korban meninggal dunia.
Beberapa hari yang lalu mereka tampak baik-baik saja,
Masih beraktifitas seperti biasa.
Namun kini hanya tinggallah nama..

Hal-hal tak terduga bisa terjadi kapan saja. Bahkan hari yang begitu cerah pun bisa mendadak berubah menjadi hujan lebat disertai petir.

Tak ada seorangpun yang bisa
menjamin kalau besok pagi, kita masih bisa membuka mata. Jangankan besok, hari ini saja kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Jika hal itu terjadi (mati), apakah
semuanya hanya akan berhenti begitu saja?

Atau,

"Where do we go when we die ?", kalau katanya The Dream Theater.

Kalau memang semua orang nantinya akan menuju eternity alias keabadian, lalu mau yang eternal -nya kayak apa?

Kalau diibaratkan dengan orang mau beli rumah, pengen yang bagus atau yang jelek?
Kalau diibaratkan orang mau beli baju, pengen baju yang bagus atau yang sobek-sobek?
Pengen sehat atau sakit? Dsb.

Kalau disuruh memillih, aku rasa semua orang pasti menginginkan yang baik untuk dirinya, yang memberikan kebahagiaan, bukan yang menyengsarakan. Yang penuh dengan kedamaian, bukan permusuhan.
Apalagi kalau sesuatu yang abadi, yang tidak akan ada habisnya, pasti milih yang enak dan menyenangkan bukan?

Kebahagiaan yang abadi hanya bisa
didapat kalau kita punya cukup banyak "tabungan" selama hidup. Dan biasanya, tabungan ini hanya bisa diisi oleh pemilik rekeningnya saja, tidak ada transfer dana seperti di bank. (Enak aja. Kalo bisa gitu ntar minta transfer aja :) ).

Tentu sobat sudah tahu bagaimana caranya "menabung" untuk kebahagiaan abadi, tinggal bagaimana kesungguhan sobat untuk meraihnya.

Sebenarnya banyak orang yang menginginkan itu di kehidupan yang akan datang tetapi tak mau mengusahakannya.

Aaahhh... masih banyak waktu. Aku masih ingin bersenang-senang dulu, mumpung masih bisa. Nanti kalau aku sudah puas bersenang-senang dan bermain-main, pasti aku pikirkan. Toh umurku baru berapa, belum menginjak usia tua. Badanku juga masih cukup sehat, tak ada hipertensi, diabetes, atau yang lainnya. Aku sudah tahu itu semua.. Santai sajalah.. woles...

Tapi, semoga kita cepat sadar jika masa itu bisa terjadi kapan saja. Kita bisa melihat sekarang ini musibah terjadi di mana-mana, tanpa melihat kau sedang sehat atau sakit, berapa usiamu, apa kedudukanmu, dsb.

Jika masa itu tiba-tiba datang, sudahkah kau punya ”tabungan" yang cukup? Semoga kita juga sadar, ini bukan tentang berapa lama kita hidup, tetapi apa yang sudah kita lakukan.

Jangan biarkan diri tertipu, dan jangan sampai merasa selalu benar. Lihatlah kepingan hidupmu dan dengarlah suara hati. Jika kau tak merasakan ada kedamaian, mungkin saja ada sesuatu yang salah di sana, maka perbaikilah.

Oya, jangan lupa bahwa apa yang kita perbuat dan pikirkan, sikap kita dalam hidup sehari-hari selalu dilihat oleh-Nya, seberapa hebatpun kau menyembunyikan itu.

Hidup ini begitu singkat. Jangan mengeraskan hati dan jangan sia-siakan hidup untuk melakukan hal-hal yang membuatmu kehilangan kesempatan untuk menikmati kebahagiaan abadi.

Jangan biarkan diri tertipu...

sent from @706

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Watukodok dan OLI

Jogja mempunyai begitu banyak tempat wisata, termasuk wisata pantai. Kalau ditanya, pantai apa saja yang Anda tahu di kota pelajar ini? Pasti kata pertama adalah Parangtritis. Ya, memang tidak salah karena Parangtritis memang pantai yang cukup terkenal di sana. Mungkin ada juga yang menyebutkan pantai Depok, Baron, Kukup, Drini, atau Indrayanti. Empat yang disebut terakhir adalah beberapa pantai indah dari sekian banyak pantai di Gunungkidul. Kali ini saya akan mencoba berbagi tentang sesuatu yang menarik di antara pantai-pantai indah itu, di mana 29 Juni 2014 yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Berangkat dari Jogja, mbah Cokro “setres”, mengantar kami menuju pesisir selatan Gunungkidul.  Kami melewati perbukitan yang penuh tanjakan dan turunan tajam, serta kelokan-kelokan yang sepertinya tak ada habisnya. Persis di bukit Patuk, di sisi sebelah kanan jalan tampak view Jogja dari atas. Barisan rumah penduduk, persawahan, pepohonan, jalan-jal...

Begini cara membuat tablet

Hey friends... Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tentang cara membuat tablet. Ya, tablet. Tapi tolong jangan dulu berpikir tentang prosesor, RAM, memori intenal, resolusi kamera, dimensi layar, dsb. Singkirkan segala yang berhubungan dengan gadget karena yang akan saya bicarakan di sini adalah tablet yang biasa kita minum kalau sedang sakit. Pada umumnya, sebagian besar tablet mengandung lebih sedikit bahan aktif jika dibandingkan bahan penolongnya (baca: eksipien). Sebagai contoh, misalnya tablet CTM 4 mg dibuat menjadi tablet dengan bobot total 1 0 0 mg. Mengapa begitu? Volume 4 mg CTM itu sangat kecil, kira-kira hanya ½ dari sebutir beras. Bisa dibayangkan, bagaimana cara mencetak serbuk sesedikit itu. Oleh karena itu lah ditambahkan eksipien agar jumlahnya mencukupi untuk bisa dicetak. Di sini kita akan menggunakan salah satu metode pembuatan tablet dengan cara granulasi basah. Apakah itu? Secara sederhana, granulasi adalah proses untuk menghasilkan granu...