Tak ada seorangpun yang bisa menentukan ingin dilahirkan dari keluarga seperti apa, tinggal di mana, dengan pembawaan yang seperti apa.
Jika kau melihat seorang berbadan tinggi, menarik, tampan/cantik, pintar berbicara, dan berbakat, tentu ia akan menyenangkan untukmu. Maka tak heran kalau kau mudah untuk mengaguminya.
Tetapi bagaimana jika kau melihat orang lain yang tak seberuntung itu? Kakinya memang dua tetapi tak sama panjang; tangannya memang dua tetapi jarinya tak lengkap, dsb.
Atau, tak usah yang seekstrim itulah. Lihatlah saja dia yang sama sekali tak punya bakat istimewa. Jangankan berbakat, untuk bisa berpikir saja dia lambat, mengerti pun lama, dan pelupa. Belum lagi penampilannya yang mungkin bagimu terlihat aneh, tak proporsional.
Tanpa sadar, tanpa dimintapun, kau akan mengomentarinya, atau malah menertawainya, setidaknya dalam hati. Kalau bisa, mungkin kau akan menghindarinya karena merasa males.
Tidak sadarkah, kalau kau sudah menilai dirinya? Kalau bisa memilih, bukankah ia pun ingin tampil dengan lebih baik? Tak seorangpun ingin terlihat buruk dan bodoh di depanmu.
Tak bisakah sejenak saja kau membayangkan bagaimana rasanya jika kau menjadi dia?
Semua ciptaan selalu diciptakan baik oleh sang Pencipta.
Maka jika kau menghakimi salah satu ciptaan itu, bukankah itu berarti kau telah merendahkan siapa penciptanya? Yang tentu mengerti dengan lebih detil tentang dia, daripada kita yang hanya melihat, tetapi sok hebat dan mengerti.
*hanyamenulisdisisasenja
(sent from @706)
Komentar