Langsung ke konten utama

Pemilu dan TINTA

Hari ini berita di mana-mana, yang dibahas tak jauh-jauh dari TPS, kemeriahan Pemilu, capres ini nyoblos di sini, capres itu nyoblos bersama si anu, dsb. Bahkan pemilu hari ini juga berhasil menjadi trending topic di twitter..

Beberapa jam kemudian, giliran jari bertinta yang ikut-ikutan jadi TT (secara, pengguna twitter terbanyak adalah orang Indonesia). Hehehe.

Kali ini, di tengah cuaca yang tidak teduh tetapi terik tak terkira alias puanas buanget (#usappeluh) saya cuma mau posting dikit soal tinta pemilu. Dan jangan dipikir terlalu berat karena ini hanyalah catatan ngawur :p .

Tinta pemilu dirancang dan digunakan supaya orang cuma bisa sekali saja mencoblos di bilik suara. Maka ujung jari yang sudah dicelup tinta akan sulit dihilangkan noda tintanya, meski sudah dicuci dengan sabun atau detergent, atau entah apalagi (mungkin abu gosok masih ada kali ya? :p ).

Istilah sulit hilang, bukan berarti tidak bisa hilang.

Tinta pemilu akan bisa hilang dalam 2-3 hari,
Tetapi percayalah, tinta yang sejati tak akan lekang oleh waktu..

Biarpun sudah bertahun-tahun, tinta yang seperti ini tidak akan hilang. Lagipula, tinta jenis ini juga tak terlihat mata telanjang. Hanya dengan mata hatilah tinta ini bisa terlihat.

Perbedaan lainnya adalah tinta ini tidak diproduksi masal, dan tak akan pernah bisa dibuat secara masal. Ia langka, dan karena itu ia mestinya berharga mahal, bahkan seberapapun banyaknya uangmu tak kan bisa untuk membelinya. Banyak orang menginginkan untuk mendapatkannya, tetapi seringkali tak mendapatnya.

Namun sangat disayangkan. Mereka yang sudah diberi tinta ini seringkali malah menganggapnya tidak berharga, hanya dianggap seperti barang biasa, sehingga diabaikan begitu saja. Sifatnya yang tak kasat mata membuatnya sulit untuk dirasa.
Kadangkala keberadaannya justru dirasa saat tinta itu sudah tak ada di situ lagi, entah ada di mana.

Tetapi percayalah bahwa ia ada, sudah ada, dan akan tetap ada..

"Tak lekang oleh waktu.." #sammy mode on (sambil pegang mic)

Maka bersyukurlah buat siapa saja  yang sudah mendapatkannya dan peliharalah ia..


Ini kataku, apa katamu??

*coretanngawurlewattengahhari

(sent from @706)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Watukodok dan OLI

Jogja mempunyai begitu banyak tempat wisata, termasuk wisata pantai. Kalau ditanya, pantai apa saja yang Anda tahu di kota pelajar ini? Pasti kata pertama adalah Parangtritis. Ya, memang tidak salah karena Parangtritis memang pantai yang cukup terkenal di sana. Mungkin ada juga yang menyebutkan pantai Depok, Baron, Kukup, Drini, atau Indrayanti. Empat yang disebut terakhir adalah beberapa pantai indah dari sekian banyak pantai di Gunungkidul. Kali ini saya akan mencoba berbagi tentang sesuatu yang menarik di antara pantai-pantai indah itu, di mana 29 Juni 2014 yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Berangkat dari Jogja, mbah Cokro “setres”, mengantar kami menuju pesisir selatan Gunungkidul.  Kami melewati perbukitan yang penuh tanjakan dan turunan tajam, serta kelokan-kelokan yang sepertinya tak ada habisnya. Persis di bukit Patuk, di sisi sebelah kanan jalan tampak view Jogja dari atas. Barisan rumah penduduk, persawahan, pepohonan, jalan-jal...

Begini cara membuat tablet

Hey friends... Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tentang cara membuat tablet. Ya, tablet. Tapi tolong jangan dulu berpikir tentang prosesor, RAM, memori intenal, resolusi kamera, dimensi layar, dsb. Singkirkan segala yang berhubungan dengan gadget karena yang akan saya bicarakan di sini adalah tablet yang biasa kita minum kalau sedang sakit. Pada umumnya, sebagian besar tablet mengandung lebih sedikit bahan aktif jika dibandingkan bahan penolongnya (baca: eksipien). Sebagai contoh, misalnya tablet CTM 4 mg dibuat menjadi tablet dengan bobot total 1 0 0 mg. Mengapa begitu? Volume 4 mg CTM itu sangat kecil, kira-kira hanya ½ dari sebutir beras. Bisa dibayangkan, bagaimana cara mencetak serbuk sesedikit itu. Oleh karena itu lah ditambahkan eksipien agar jumlahnya mencukupi untuk bisa dicetak. Di sini kita akan menggunakan salah satu metode pembuatan tablet dengan cara granulasi basah. Apakah itu? Secara sederhana, granulasi adalah proses untuk menghasilkan granu...