Gelap dan sayu
menggelayut langit, mengantar rintik hujan ke bumi dengan caranya
yang begitu sederhana.
Kadangkala dia turun
sambil bersorak menggelora, seakan ingin agar dunia tahu, dan
menyambutnya. Seperti yang terjadi baru saja sore ini.
Siang hari yang begitu
terik, bisa dengan tiba-tiba berubah menjadi gelap. Tidak ada yang
tahu pasti kapan hujan akan datang.
Hujan selalu turun dalam
bentuk titik-titik hujan, tidak pernah tumpah begitu saja, tidak seperti
menuangkan teh hangat di pagi hari ke dalam cangkir. Titik-titik air
itu tampak tidak kompak saat turun ke bumi, namun mereka tahu dengan
pasti kemana mereka menuju.
Tidak peduli apakah hujan
turun di atas bukit, di atas sawah, perkampungan, perkotaan, ataupun
di gang sempit di mana mobil pun tak bisa melintas, air akan mengalir
ke tempat yang lebih rendah. Itulah yang selalu diajarkan di
pelajaran IPA ketika SD dulu. Hujan yang turun di atas bukit,
membasahi daun dan pepohonan, mengalir dan berkumpul di sungai.
Begitu juga air yang jatuh ke sawah, perkampungan, perkotaan, akan
melalui selokan-selokan sebelum bertemu dengan air di sungai. Biarpun
alirannya tidak pernah teratur, berkelok ke sana kemari, namun mereka
selalu tahu kemana mereka menuju. Ya, mereka menuju samudra.
Jika air telah meresap ke
dalam tanah, dan jika bisa tersimpan dalam waktu yang cukup lama,
mereka akan tetap menuju dan bersatu kembali di laut. Air yang
diambil ke permukaan tanah melalui sumur atau dipompa, digunakan oleh
manusia, dan setelahnya akan masuk ke saluran-saluran air. Bahkan
jika teriknya mentari menguapkan mereka sebelum sampai di sungai,
mereka akan kembali lagi ke langit, dan akan turun juga melalui
titik-titik hujan, untuk menuju samudra.
Seberapapun sulit jalan
yang harus dilalui, pada akhirnya air akan menuju samudra.
Mungkin hidup pun seperti
air hujan itu.

Komentar