Langsung ke konten utama

Hujan

Gelap dan sayu menggelayut langit, mengantar rintik hujan ke bumi dengan caranya yang begitu sederhana.
Kadangkala dia turun sambil bersorak menggelora, seakan ingin agar dunia tahu, dan menyambutnya. Seperti yang terjadi baru saja sore ini.

Siang hari yang begitu terik, bisa dengan tiba-tiba berubah menjadi gelap. Tidak ada yang tahu pasti kapan hujan akan datang.



Hujan selalu turun dalam bentuk titik-titik hujan, tidak pernah tumpah begitu saja, tidak seperti menuangkan teh hangat di pagi hari ke dalam cangkir. Titik-titik air itu tampak tidak kompak saat turun ke bumi, namun mereka tahu dengan pasti kemana mereka menuju.

Tidak peduli apakah hujan turun di atas bukit, di atas sawah, perkampungan, perkotaan, ataupun di gang sempit di mana mobil pun tak bisa melintas, air akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Itulah yang selalu diajarkan di pelajaran IPA ketika SD dulu. Hujan yang turun di atas bukit, membasahi daun dan pepohonan, mengalir dan berkumpul di sungai. Begitu juga air yang jatuh ke sawah, perkampungan, perkotaan, akan melalui selokan-selokan sebelum bertemu dengan air di sungai. Biarpun alirannya tidak pernah teratur, berkelok ke sana kemari, namun mereka selalu tahu kemana mereka menuju. Ya, mereka menuju samudra.

Jika air telah meresap ke dalam tanah, dan jika bisa tersimpan dalam waktu yang cukup lama, mereka akan tetap menuju dan bersatu kembali di laut. Air yang diambil ke permukaan tanah melalui sumur atau dipompa, digunakan oleh manusia, dan setelahnya akan masuk ke saluran-saluran air. Bahkan jika teriknya mentari menguapkan mereka sebelum sampai di sungai, mereka akan kembali lagi ke langit, dan akan turun juga melalui titik-titik hujan, untuk menuju samudra.

Seberapapun sulit jalan yang harus dilalui, pada akhirnya air akan menuju samudra.

Mungkin hidup pun seperti air hujan itu.

Komentar

tetap semangat mengatakan…
Mas...bahan2 pembuatan pil tabletnya apa aja..biar saya gampang beli di toko kimianya..bisa dishare mas ke email saya : mamatsurahmat17@gmail.com

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Watukodok dan OLI

Jogja mempunyai begitu banyak tempat wisata, termasuk wisata pantai. Kalau ditanya, pantai apa saja yang Anda tahu di kota pelajar ini? Pasti kata pertama adalah Parangtritis. Ya, memang tidak salah karena Parangtritis memang pantai yang cukup terkenal di sana. Mungkin ada juga yang menyebutkan pantai Depok, Baron, Kukup, Drini, atau Indrayanti. Empat yang disebut terakhir adalah beberapa pantai indah dari sekian banyak pantai di Gunungkidul. Kali ini saya akan mencoba berbagi tentang sesuatu yang menarik di antara pantai-pantai indah itu, di mana 29 Juni 2014 yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Berangkat dari Jogja, mbah Cokro “setres”, mengantar kami menuju pesisir selatan Gunungkidul.  Kami melewati perbukitan yang penuh tanjakan dan turunan tajam, serta kelokan-kelokan yang sepertinya tak ada habisnya. Persis di bukit Patuk, di sisi sebelah kanan jalan tampak view Jogja dari atas. Barisan rumah penduduk, persawahan, pepohonan, jalan-jal...

Begini cara membuat tablet

Hey friends... Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tentang cara membuat tablet. Ya, tablet. Tapi tolong jangan dulu berpikir tentang prosesor, RAM, memori intenal, resolusi kamera, dimensi layar, dsb. Singkirkan segala yang berhubungan dengan gadget karena yang akan saya bicarakan di sini adalah tablet yang biasa kita minum kalau sedang sakit. Pada umumnya, sebagian besar tablet mengandung lebih sedikit bahan aktif jika dibandingkan bahan penolongnya (baca: eksipien). Sebagai contoh, misalnya tablet CTM 4 mg dibuat menjadi tablet dengan bobot total 1 0 0 mg. Mengapa begitu? Volume 4 mg CTM itu sangat kecil, kira-kira hanya ½ dari sebutir beras. Bisa dibayangkan, bagaimana cara mencetak serbuk sesedikit itu. Oleh karena itu lah ditambahkan eksipien agar jumlahnya mencukupi untuk bisa dicetak. Di sini kita akan menggunakan salah satu metode pembuatan tablet dengan cara granulasi basah. Apakah itu? Secara sederhana, granulasi adalah proses untuk menghasilkan granu...