Kegalauan cuaca ini juga menyebabkan kondisi tubuh lebih rentan. Munculnya penderita flu, meriang (merindukan kasih sayang #eh) pun sedang berada pada grafik naik.
*Buat yang sedang sakit, ayo banyak makan yang sehat dan istirahat yang cukup ya, biar cepat sembuh.
Rabu kemarin saya mudik ke Green land alias Ngijoreja, sebuah kampung kecil di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (baca : Gunungkidul). Hari pertama sore hari langsung disambut hujan sangat deras. Saking derasnya, lokasi bekas penambangan batu kapur di dekat rumah simbah penuh air dan keruh.
Saya jadi teringat dulu waktu masih kecil, saya sering bermain air bersama sahabat masa kecil di lokasi yang serupa.
Kalau sehabis hujan, kedalaman air yang sebenarnya, tidak kelihatan karena airnya keruh bercampur lumpur. Kami biasanya tidak berani memasukkan kedua kaki dan berjalan karena kuatir jangan-jangan airnya dalam sehingga kami bisa tenggelam.
Makhlum, dulu kami anak gunung yang belum bisa berenang.
Setelah beberapa hari tidak turun hujan, barulah kami kembali lagi ke lokasi tersebut dan ternyata airnya sudah mulai jernih. Bagian dasarnya terlihat lebih jelas sehingga kami lebih yakin untuk memasukkan kaki ke air atau tidak.
Belakangan setelah kuliah, saya baru menyadari kenapa air itu menjadi lebih jernih setelah dibiarkan beberapa hari.
Hukum Stokes mengatakan bahwa kecepatan pengendapan sebanding dengan ukuran partikel serta berbanding terbalik dengan kekentalannya. Makin besar ukuran partikel (zat padat tidak larutnya) maka makin cepat mengendap. Semakin encer cairan, partikel juga makin mudah mengendap.
Partikel lumpur dalam air di lokasi bekas tambang tadi berukuran kecil sedangkan cairannya tidak kental. Perlu waktu pendiaman beberapa hari untuk mengendapkan lumpur sehingga airnya lebih jernih.
Yang saya tekankan adalah proses pendiaman. Hanya melalui proses pendiaman dan gravitasi, airnya akan menjadi jernih. Aktivitas mengaduk atau mengobok-obok, baik dengan tangan, kaki, maupun hujan yang deras akan tetap menyisakan kubangan yang keruh.
Begitu juga dengan hidup manusia. Hanya dengan mengambil waktu untuk berdiam, semua kekeruhan dalam pikiran dapat mengendap. Sesudah itu, baru kita dapat melihat sesuatu dengan lebih jelas dan menentukan sikap yang lebih tepat. Saya rasa, setiap orang perlu meluangkan waktu untuk mengendapkan hal-hal dalam pikirannya. Atau setidaknya untuk memberi kesempatan kepada jiwa untuk menyusul raganya.
Original text sent from J5.

Komentar