Langsung ke konten utama

Drug discovery ~ development ?


Beberapa hari yang lalu aku menerima telepon dari keluarga di Yogya (perantauan mode), bahwa minggu depan akan diadakan acara doa selamatan 1000 hari salah seorang kerabat kami. Aku sejenak teringat, bahwa kerabat kami dulu menderita cancer. Sudah menjalani bermacam-macam terapi, bahkan kemo yang tidak sedikit juga frekuensinya, tetapi ternyata jiwanya tidak dapat diselamatkan. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi.
Mulai terpikir, apakah obat yang ditemukan di era ini belum cukup mempan untuk mengatasi penyakit, terutama penyakit yang mematikan seperti cancer ini. Sebenarnya, mana yang lebih baik, drug discovery atau drug development dalam rangka mendapatkan taraf kesehatan yang lebih baik ?
Ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan :
  • Obat yang telah ditemukan, telah diteliti mempunyai efek terapi meskipun juga mempunyai efek samping. Ikatan obat dengan reseptor yang bukan target terapi seringkali menimbulkan efek yang tidak menguntungkan.
  • Keberhasilan terapi tidak hanya tergantung pada manjur/ tangguh nya obat, tetapi juga tergantung kepada patient compliance atau kepatuhan pasien dalam melaksanakan terapi. Dengan demikian, obat yang digunakan untuk terapi sebaiknya dibuat senyaman mungkin untuk pasien.
  • Masalah kesehatan yang saat ini dikatakan belum ada obatnya, ada kemungkinan karena belum ada senyawa obat yang secara efektif, karena senyawa tersebut tidak bekerja pada tempat dan dosis yang tepat. Alzheimer merupakan penyakit yang termasuk dalam poin ini.
  • Senyawa obat untuk terapi sudah ada, baik hasil sintesis maupun hasil alam (traditional medicine).
 
Pengobatan pada masa ini diharapkan sudah mengacu pada semboyan patient oriented, yaitu pengobatan yang berfokus pada pasien. Jika mempertimbangkan bahwa saat ini masih banyak terapi obat yang masih belum tepat sasaran, maka akan lebih baik focus pada kebutuhan pasien dengan menyediakan obat dengan formulasi yang lebih baik (sasaran lebih tepat dan juga memberikan kemudahan bagi pasien) daripada menemukan obat baru (yang juga penting). Mungkin saja ada yang berpendapat, “namanya saja obat, ya tentu saja tidak enak”. Jika orang ingin sembuh dari sakitnya maka konsekuensinya adalah menerima saja obat yang sudah ada, termasuk jika masih menimbulkan ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan yang dimaksud seperti rasanya pahit, bau yang tidak sedap, atau bahkan rasa sakit akibat penggunaan sediaan parenteral. Ketidaknyamanan seperti telah disebutkan sebaiknya dapat diatasi sehingga dapat meningkatkan kepatuhan/penerimaan pasien terhadap obat/terapi. Sebagai contoh : insulin sebagai obat yang tersusun dari asam amino tentu tidak dapat diberikan secara per oral karena akan rusak karena kondisi lambung yang asam sehingga diberikan secara parenteral (misal sub kutan). Hal ini tentu menimbulkan ketidaknyamanan bagi pasien. Insulin inhalasi sebagai salah satu pengembangan formulasi insulin, kini memungkinkan rute pemberian obat yang lebih nyaman.
Banyak obat yang beredar saat ini masih dapat diformulasi lebih baik, sehingga memberikan hasil yang lebih baik. Obat-obat me too yang menjadi “cash cow” (bisnis atau produk dengan pertumbuhan lambat dan pangsa pasar tinggi) bagi kebanyakan industri farmasi inipun sudah terbukti aktivitas farmakodinamik dan toksisitasnya maka biaya pengembangan/formulasi nya pasti akan lebih rendah dibandingkan penemuan dan pengembangan New Chemical Entity (NCE). Hal ini pula yang kemungkinan menjadi penyebab terjadinya akuisisi dan merger industri farmasi. Sebagai contoh : Pfizer dengan Lipitor nya mampu memberikan revenue yang tidak sedikit. Dengan hampir berakhirnya masa paten Lipitor, maka akan segera muncul generiknya (Atorvastatin). Apakah kemudian sudah ada “calon” pengganti Lipitor yang dapat menutup hilangnya revenue akibat habisnya masa paten, mengingat proses penemuan dan pengembangan NCE tidaklah mudah. Dari sekian banyak project, mungkin hanya 1 atau 2 yang layak untuk dilanjutkan menjadi obat, padahal dana penelitian yang dikeluarkan tidak sedikit. Hal ini lah yang kemungkinan melatarbelakangi terjadinya akuisisi terhadap industri farmasi lain yang diharapkan mampu menggantikan kontribusi Lipitor. Tahun 2010 Pfizer mengakuisisi Wyeth dan tahun ini Pfizer melakukan akuisisi terhadap perusahaan farmasi Amerika, King Pharmaceuticals.

Komentar

Katarina Ratih mengatakan…
Dear Bapak agung...
sungguh merupakan, wacana yang berat...memang penting tampaknya...serius sepertinya....hehe
selalu berkarya ya Bapak Agung. semoga sukses..:)
Lorentius Agung Prasetya mengatakan…
Dear Ibu Ratih,

Terima kasih ibu atas komentarnya.. :)

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Watukodok dan OLI

Jogja mempunyai begitu banyak tempat wisata, termasuk wisata pantai. Kalau ditanya, pantai apa saja yang Anda tahu di kota pelajar ini? Pasti kata pertama adalah Parangtritis. Ya, memang tidak salah karena Parangtritis memang pantai yang cukup terkenal di sana. Mungkin ada juga yang menyebutkan pantai Depok, Baron, Kukup, Drini, atau Indrayanti. Empat yang disebut terakhir adalah beberapa pantai indah dari sekian banyak pantai di Gunungkidul. Kali ini saya akan mencoba berbagi tentang sesuatu yang menarik di antara pantai-pantai indah itu, di mana 29 Juni 2014 yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Berangkat dari Jogja, mbah Cokro “setres”, mengantar kami menuju pesisir selatan Gunungkidul.  Kami melewati perbukitan yang penuh tanjakan dan turunan tajam, serta kelokan-kelokan yang sepertinya tak ada habisnya. Persis di bukit Patuk, di sisi sebelah kanan jalan tampak view Jogja dari atas. Barisan rumah penduduk, persawahan, pepohonan, jalan-jal...

Begini cara membuat tablet

Hey friends... Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tentang cara membuat tablet. Ya, tablet. Tapi tolong jangan dulu berpikir tentang prosesor, RAM, memori intenal, resolusi kamera, dimensi layar, dsb. Singkirkan segala yang berhubungan dengan gadget karena yang akan saya bicarakan di sini adalah tablet yang biasa kita minum kalau sedang sakit. Pada umumnya, sebagian besar tablet mengandung lebih sedikit bahan aktif jika dibandingkan bahan penolongnya (baca: eksipien). Sebagai contoh, misalnya tablet CTM 4 mg dibuat menjadi tablet dengan bobot total 1 0 0 mg. Mengapa begitu? Volume 4 mg CTM itu sangat kecil, kira-kira hanya ½ dari sebutir beras. Bisa dibayangkan, bagaimana cara mencetak serbuk sesedikit itu. Oleh karena itu lah ditambahkan eksipien agar jumlahnya mencukupi untuk bisa dicetak. Di sini kita akan menggunakan salah satu metode pembuatan tablet dengan cara granulasi basah. Apakah itu? Secara sederhana, granulasi adalah proses untuk menghasilkan granu...