Langsung ke konten utama

GRATIS itu OAT

Penyakit Tuberkulosis (TBC) dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan di mana saja.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini
pada awalnya menyerang organ paru-paru, tetapi bisa juga menyebar ke organ lainnya. Jika tidak ditangani dengan benar, penyakit ini bisa mengakibatkan
kematian

Penyakit ini sebenarnya sulit disembuhkan, tetapi dengan perawatan yang
serius, pasien TBC bisa sembuh total. Obat yang digunakan untuk pengobatan TBC terdiri dari Isoniazid (INH), Rifampicin, Pyrazinamide, dan Ethambutol.
Obat-obatan ini dipilih karena efektifitasnya tinggi sedangkan efek samping
dan toksisitasnya masih bisa ditolerir. Sebagian besar penderita TBC bisa
disembuhkan dengan obat-obat ini. Jadi jangan khawatir tidak bisa sembuh
ya! :)


Pasien baru TBC akan minum keempat obat tersebut selama 2 bulan pertama
setiap hari, kemudian dilanjutkan dengan minum INH dan Rifampicin selama 4
bulan berikutnya.

Oya, selama jangka waktu pengobatan, pasien tidak boleh lupa minum obat
alias absen seharipun. Kalau itu terjadi, maka pengobatan harus dimulai
lagi dari awal.


“Apaaa?? Obat sebanyak itu mesti diminum sampai 6 bulan dan SETIAP HARI??
Kayaknya ga sanggup deh. Mana kalau lupa mesti ngulang dari awal lagi!
Aduuh!”


Pengobatan pasien TBC memang butuh disiplin dan ketelatenan supaya bisa tercapai kesembuhan total pasien. Seringpula terjadi, pasien berhenti minum obat setelah 3-4 bulan karena merasa badannya sudah sembuh. Padahal sebenarnya, bakteri TBC masih tinggal dalam tubuhnya. Memang sih, kita tidak bisa lari dari kenyataan bahwa minum berbagai macam obat dalam jangka waktu yang lama bisa membuat kepatuhan seseorang minum obat berkurang.


Kalau tidak disiplin minum obat, maka pengulangan pengobatan pun menjadi sia-sia dilakukan. Selain itu, pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak lengkap, bisa mengakibatkan kekebalan terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) sehingga harus menjalani terapi
dengan obat lini 2 ataupun 3 yang jangka waktu pengobatannya lebih lama.
Itulah mengapa meskipun OAT ini bisa menimbulkan efek samping yang tidak mengenakkan, misalnya mual, terapi ini tetap harus dilakukan demi
kesembuhan yang total. Ayo, SEMANGAT ya!!!


Dulu, OAT ini diberikan kepada pasien TBC dalam tablet yang terpisah,
sehingga penderita akan minum sebanyak 4 tablet per hari. Namun, seiring
dengan perkembangan teknologi kefarmasian, OAT yang terdiri dari beberapa jenis obat itu, kini sudah dibuat dalam 1 (satu) tablet kombinasi yang dikenal dengan Fixed Dose Combination (FDC). Harapannya adalah dengan jumlah tablet yang lebih sedikit, pasien lebih patuh dan lengkap minum OAT daripada diberikan dalam tablet terpisah.


“Minum obat sebanyak dan selama itu, mau habisin berapa banyak uang ?? Sekali berobat ke dokter saja bisa habis ratusan ribu..”


Tenang-tenang! tak perlu panik kayak ditagih kreditor gara-gara pembayaran utang jatuh tempo. :p


Dalam rangka penanggulangan TBC nasional, pemerintah sudah menyediakan OAT secara cuma-cuma alias gratis di unit pelayanan  kesehatan, yaitu di puskesmas dan rumah sakit pemerintah. Yang perlu dilakukan oleh penderita TBC hanyalah datang ke unit pelayanan kesehatan tersebut untuk menerima OAT dan tidak absen minum obatnya setiap hari. Meskipun OAT ini diberikan secara gratis oleh pemerintah, mutu obat-obatan ini tidak perlu diragukan, jadi jangan dianggap remeh. OAT yang digunakan di unit pelayanan tersebut mempunyai kemanjuran yang sama dengan obat-obat paten (dan branded).


Jangan juga berpikiran bahwa pengobatan TBC di rumah sakit yang lebih
besar dan terkenal, akan menjamin penyembuhan lebih cepat dan tokcer.
Pengeluaran biaya yang lebih mahal bukanlah jaminan karena penyembuhan TBC memang membutuhkan waktu, ketekunan, dan kesabaran.

Program pemerintah memberikan OAT gratis ini perlu didukung dan perlu
terus-menerus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya supaya betul-betul
memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk penderita TBC dan keluarganya.


Meskipun OAT sudah diberikan secara gratis untuk pasien TBC, tetapi, pada akhirnya kesadaran dan peran serta masyarakat untuk membantu mendeteksi, dan mendukung pengobatan jika ada pasien dengan gejala-gejala seperti yang dimiliki pasien TBC, sangat penting demi pemberantasan penyakit TBC.


Pasien TBC harus disembuhkan, harus diselamatkan. Tidak hanya untuk
dirinya sendiri, tetapi juga demi kebaikan bersama.

Komentar

Anonim mengatakan…
selamat malam, maaf, untuk obat/pil merah yang besar, cara meminumnya 3 butir dalam satu kali minum yang menjadi pertanyaan saya, apakah dalam satu hari 2 kali minum atau 3 kali minum??
mohon jawabannya terimakasih

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Watukodok dan OLI

Jogja mempunyai begitu banyak tempat wisata, termasuk wisata pantai. Kalau ditanya, pantai apa saja yang Anda tahu di kota pelajar ini? Pasti kata pertama adalah Parangtritis. Ya, memang tidak salah karena Parangtritis memang pantai yang cukup terkenal di sana. Mungkin ada juga yang menyebutkan pantai Depok, Baron, Kukup, Drini, atau Indrayanti. Empat yang disebut terakhir adalah beberapa pantai indah dari sekian banyak pantai di Gunungkidul. Kali ini saya akan mencoba berbagi tentang sesuatu yang menarik di antara pantai-pantai indah itu, di mana 29 Juni 2014 yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Berangkat dari Jogja, mbah Cokro “setres”, mengantar kami menuju pesisir selatan Gunungkidul.  Kami melewati perbukitan yang penuh tanjakan dan turunan tajam, serta kelokan-kelokan yang sepertinya tak ada habisnya. Persis di bukit Patuk, di sisi sebelah kanan jalan tampak view Jogja dari atas. Barisan rumah penduduk, persawahan, pepohonan, jalan-jal...

Begini cara membuat tablet

Hey friends... Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tentang cara membuat tablet. Ya, tablet. Tapi tolong jangan dulu berpikir tentang prosesor, RAM, memori intenal, resolusi kamera, dimensi layar, dsb. Singkirkan segala yang berhubungan dengan gadget karena yang akan saya bicarakan di sini adalah tablet yang biasa kita minum kalau sedang sakit. Pada umumnya, sebagian besar tablet mengandung lebih sedikit bahan aktif jika dibandingkan bahan penolongnya (baca: eksipien). Sebagai contoh, misalnya tablet CTM 4 mg dibuat menjadi tablet dengan bobot total 1 0 0 mg. Mengapa begitu? Volume 4 mg CTM itu sangat kecil, kira-kira hanya ½ dari sebutir beras. Bisa dibayangkan, bagaimana cara mencetak serbuk sesedikit itu. Oleh karena itu lah ditambahkan eksipien agar jumlahnya mencukupi untuk bisa dicetak. Di sini kita akan menggunakan salah satu metode pembuatan tablet dengan cara granulasi basah. Apakah itu? Secara sederhana, granulasi adalah proses untuk menghasilkan granu...