Jaman dulu, banyak orang
bilang tuberkulosis alias TB adalah penyakit keturunan, penyakit
karena guna-guna/ sihir, dan bahkan tidak bisa disembuhkan. Karena
penyakit ini mudah menular, maka dulu banyak orang yang mengasingkan
penderita TB, memisahkan perangkat makan dan minumnya, bahkan
berusaha untuk tidak bergaul dekat-dekat dengan mereka. Dengan kata
lain, penderita TB dikucilkan dari keluarga dan dari komunitas. Sedih
banget ya? Sudah sakit, eh malah ditinggalkan begitu saja. Coba
bayangkan kalau kita sendiri yang mengalami diperlakukan
begitu..pasti ga mau kan?
Bakteri penyebab TB yaitu
Mycobacterium tuberculosis alias si Myco, adalah bakteri yang bisa
dibilang bandel. Kenapa? Karena bakteri ini tidak bisa dibasmi kalau
hanya menggunakan obat-obat biasa saja.
Hingga April 2014, setiap
tahun masih ada 67.000 kasus meninggal karena TB, atau sekitar 186
orang perhari, demikian pernah diungkapkan Dirjen Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan
(http://www.tbindonesia.or.id/2014/03/26/beban-tb-di-indonesia-masih-tinggi/).
TB ini kan sudah ada
sejak jaman duluuu banget, tapi kok sampai sekarang kasusnya masih
tinggi ya?
Ini dia beberapa
penyebabnya.
Pertama. Untuk kasus TB
baru, di mana pasien mendapatkan pengobatan dalam jangka waktu yang
relatif lama (minimal 6 bulan), menyebabkan banyak pasien TB berhenti
berobat setelah merasa sehat/sembuh meskipun masa pengobatannya belum
selesai. Ini menyebabkan pasien TB sulit sembuh.
Kedua. Kasus TB
diperparah dengan adanya infeksi AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome). Penderita TB sekaligus AIDS mempunyai kekebalan tubuh yang
rendah sehingga perlawanan tubuh terhadap bakteri pun lemah. Selain
itu, munculnya TB-MDR (Multi Drug Resistant), atau bahasa gampangnya,
bakteri TB menjadi kebal terhadap beberapa macam obat menjadikan TB
sulit diberantas.
Ketiga. Adanya penderita
TB laten, yaitu penderita tidak sakit namun karena daya tahan tubuh
menurun, penyakit TB akan muncul.
Meski tampaknya sulit
sekali memberantas bakteri yang satu ini, bukan berarti penyakit ini
tidak bisa disembuhkan ya. Opini masyarakat yang mengatakan kalau TB
tidak bisa sembuh hanyalah mitos dan itu sangat tidak benar.
Lalu, bagaimana supaya
penderita TB bisa sembuh?
Secara sederhana, pasien
TB baru, akan bisa sembuh jika mau memeriksakan diri dan menjalani
pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) sesuai anjuran.
Pengobatan pasien TB
butuh disiplin dan ketelatenan supaya bisa tercapai kesembuhan total
pasien. Seringkali terjadi, pasien berhenti minum obat setelah 3-4
bulan karena merasa badannya sudah sembuh. Padahal sebenarnya,
bakteri TB masih tinggal dalam tubuhnya. Memang sih, kita tidak bisa
lari dari kenyataan bahwa minum berbagai macam obat dalam jangka
waktu yang lama bisa membuat kepatuhan seseorang minum obat
berkurang. Apabila ada keluhan efek samping OAT (seperti gatal dan
mual), maka pasien harus menyampaikan kepada petugas kesehatan saat
kontrol agar dapat diberikan obat mengatasi efek samping tersebut.
Dan yang tidak kalah penting, jangan hentikan minum OAT sendiri tanpa
anjuran tenaga kesehatan ya!
Memang, tantangan
terbesar pengobatan TB adalah lamanya pengobatan dan kepatuhan minum
obat. Saya sendiri bisa mengerti kok, selain akan terasa sedikit
membosankan, efek samping mual OAT nya akan terasa tidak
menyenangkan. Apalagi itu berlangsung setiap hari.
Penurunan nafsu makan
karena obat mungkin bisa terjadi.
Meski begitu, teman-teman
(penderita TB) jangan sampai patah semangat ya, karena kalian tidak
lah sendirian menghadapi si bandel Myco ini. Ada keluarga, sahabat,
teman, bapak ibu dokter, apoteker, dan tenaga kesehatan lain yang
akan mendukung kalian melalui semua ini. Mereka akan selalu membantu,
tetapi peran serta yang utama tentu dari pasien sendiri.
Kalian semua harus berjuang untuk
melawan si Myco. Kalau mereka yang dulu pernah didiagnosa TB saja bisa sembuh, maka kalian pun pasti akan sembuh juga. Jangan menyerah! Ayo sembuh!! :)
“You'll never walk alone”
#serial3




Komentar