Langsung ke konten utama

Kisah di pintu Selat Singapura

Menjadi negara serumpun, ternyata belum menjadi jaminan bebas konflik. Bahkan negara yang sudah cukup maju pun bisa mengalami permasalahan dengan negara tetangga. Sebagai contoh Singapura dan Malaysia, 2 negara bersebelahan yang sudah cukup maju di Asia Tenggara yang hingga saat ini masih memiliki sengketa perbatasan.

Wilayah yang dipersengketakan adalah pulau-pulau di pintu masuk selat Singapura sebelah timur, yaitu Pedra Branca atau dikenal sebagai Pulau Batu Puteh oleh masyarakat Malaysia, Batuan Tengah, dan Karang Selatan.

Sengketa bermula pada 21 Desember 1979 saat Malaysia mengeluarkan peta yang menunjukkan Pedra Branca berada dalam wilayahnya. Malaysia menganggap Pedra Branca berada di bekas wilayah kesultanan Johor sehingga Malaysia sebagai penerus kesultanan merasa berhak memiliki Pedra Branca. Singapura berkeberatan karena mereka merasa juga memiliki hak atas Pedra Branca. Mercusuar Horsburgh yang dibangun di atasnya adalah warisan kekuasaan Inggris sehingga Singapura sebagai pewaris kekuasaan Inggris berhak atas Pedra Branca.

 Pedra Branca 
(sumber: http://www.aseanaffairs.com/page/singapore-malaysia/island_dispute_s%27pore_wary_of_new_claim_on_pedra_branca)

Tahun 2008, International Court of Justice (ICJ) alias World Court (Mahkamah Internasional) telah menyelesaikan sengketa atas Pedra Branca dengan menyerahkannya kepada pemerintah Singapura. Sementara status Batuan Tengah dan Karang Selatan belum jelas dan masih menjadi perselisihan antara kedua negara.

Agar tak berlarut-larut, hendaknya sengketa atas Batuan Tengah dan Karang Selatan segera diselesaikan. Apalagi tahun 2015, ASEAN diharapkan menjadi komunitas tunggal yang merangkul semua negara.

Bagaimana menyelesaikan konflik ini? Berikut pendapat saya.

Meskipun pulau yang disengketakan sebenarnya tidak luas, kedaulatan atas pulau-pulau tersebut akan meningkatkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang menguntungkan negara yang memilikinya.
Sengketa wilayah ini akan selalu menimbulkan ketegangan antara kedua negara, dan dapat menimbulkan nasionalisme sentimentil yang dapat berkembang menjadi ketegangan di kawasan
serta mempengaruhi stabilitas regional apalagi jika kemudian kekuatan militer terlibat di dalamnya.

Penyelesaian sengketa secara damai antara Singapura dan Malaysia adalah cara terbaik mengakhiri perselisihan. Sejarah penyelesaian damai melalui ICJ yang memerlukan waktu yang tidak sebentar hendaknya menjadi pengalaman yang dapat dipelajari, untuk kemudian digunakan dalam menyelesaikan sengketa yang masih tersisa.

Berbagi pengalaman dengan negara lain yang pernah mengalami ketidakberhasilan mendapatkan kesepakatan sesuai harapan yang diinginkan adalah layak untuk dilakukan.
Hal ini penting agar masyarakat dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, proses penyelesaian sengketa, usaha yang dilakukan, dan hasil-hasil yang diperoleh secara jelas. Diharapkan pula, masyarakat yang lebih mengerti akan mampu menghargai seluruh upaya penyelesaian sengketa oleh para diplomat, ahli internasional, dan delegasi yang terlibat dalam upaya perdamaian. Dengan demikian, tindakan provokasi tanpa memahami secara jelas proses yang sedang berjalan dapat diminimalkan sehingga proses penyelesaian sengketa dapat berjalan dengan baik.

Belajar dari insiden yang pernah terjadi dalam kasus sengketa antar negara, atau di dalam ruang lingkup sebuah negara, diharapkan dapat menjadi pendorong lebih lanjut penyelesaian sengketa demi kepastian hukum wilayah tersebut. Dinamika politik yang sedang terjadi di dalam negeri masing-masing juga dapat mempengaruhi perundingan yang dilakukan, namun hendaknya setiap pihak mampu menyikapi hal tersebut dengan baik.

Memang, penyelesaian sengketa perbatasan tidak mudah karena delegasi dari semua pihak pasti tidak ingin menyerahkan kedaulatan kepada pihak asing. Namun, dalam hal ini diperlukan kehendak politik dari masing-masing negara untuk mencari solusi terbaik (win-win solution).

Semoga Singapura dan Malaysia, dapat segera menyelesaikan persengketaan perbatasan tersebut, demikian juga dengan negara-negara ASEAN lainnya yang masih mengalami permasalahan serupa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Watukodok dan OLI

Jogja mempunyai begitu banyak tempat wisata, termasuk wisata pantai. Kalau ditanya, pantai apa saja yang Anda tahu di kota pelajar ini? Pasti kata pertama adalah Parangtritis. Ya, memang tidak salah karena Parangtritis memang pantai yang cukup terkenal di sana. Mungkin ada juga yang menyebutkan pantai Depok, Baron, Kukup, Drini, atau Indrayanti. Empat yang disebut terakhir adalah beberapa pantai indah dari sekian banyak pantai di Gunungkidul. Kali ini saya akan mencoba berbagi tentang sesuatu yang menarik di antara pantai-pantai indah itu, di mana 29 Juni 2014 yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Berangkat dari Jogja, mbah Cokro “setres”, mengantar kami menuju pesisir selatan Gunungkidul.  Kami melewati perbukitan yang penuh tanjakan dan turunan tajam, serta kelokan-kelokan yang sepertinya tak ada habisnya. Persis di bukit Patuk, di sisi sebelah kanan jalan tampak view Jogja dari atas. Barisan rumah penduduk, persawahan, pepohonan, jalan-jal...

Begini cara membuat tablet

Hey friends... Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tentang cara membuat tablet. Ya, tablet. Tapi tolong jangan dulu berpikir tentang prosesor, RAM, memori intenal, resolusi kamera, dimensi layar, dsb. Singkirkan segala yang berhubungan dengan gadget karena yang akan saya bicarakan di sini adalah tablet yang biasa kita minum kalau sedang sakit. Pada umumnya, sebagian besar tablet mengandung lebih sedikit bahan aktif jika dibandingkan bahan penolongnya (baca: eksipien). Sebagai contoh, misalnya tablet CTM 4 mg dibuat menjadi tablet dengan bobot total 1 0 0 mg. Mengapa begitu? Volume 4 mg CTM itu sangat kecil, kira-kira hanya ½ dari sebutir beras. Bisa dibayangkan, bagaimana cara mencetak serbuk sesedikit itu. Oleh karena itu lah ditambahkan eksipien agar jumlahnya mencukupi untuk bisa dicetak. Di sini kita akan menggunakan salah satu metode pembuatan tablet dengan cara granulasi basah. Apakah itu? Secara sederhana, granulasi adalah proses untuk menghasilkan granu...