Langsung ke konten utama

If tomorrow never comes

Belum genap sebulan yang lalu gunung Sinabung meletus, tadi malam giliran gunung Kelud ikut unjuk gigi. Bumi terasa bergetar dengan kuat di saat menjelang erupsinya. Begitu dahsyatnya ia memuntahkan material vulkanik, sehingga dentuman saat terjadi pun  terdengar hingga Jogja dan sekitarnya. Hujan abu tidak hanya terjadi di sekitar Kediri saja, namun hingga ke Jawa Tengah, Jogja, Surabaya. Sobat pasti juga sudah menyimak berita di tv, hujan abu yang terjadi sudah seperti suasana mendung dan hujan. Jarak pandang pun terbatas sehingga penerbangan dari/ke Surabaya, Malang, Solo, dan Jogja ditiadakan untuk sementara.

Sebelumnya aku tidak menyangka kalau hujan abu nya sampai ke Jogja, apalagi suara dentumannya saat erupsi bisa terdengar sampai sana. Bukankah jarak Kediri ke Jogja itu sudah lumayan jauh? Kalau di Jogja saja hujan abunya seperti itu, bagaimana kondisi di area dekat gunung Kelud?

Aku rasa, sekali lagi kita diingatkan bahwa bencana bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja. Tidak ada yang tahu juga kapan hidup seseorang akan berakhir. Bisa saja hari, besok, atau entah kapan.

Mungkin memang benar, di dekat kita tinggal tak ada gunung berapi aktif. Atau mungkin, bukan daerah rawan gempa atau rawan banjir, atau apalah bencana lainnya. Tetapi semoga kita sadar, batas hidup manusia tidak ditentukan ada tidaknya bencana. Sakit, kecelakaan lalu lintas, jatuh, petir, tersengat listrik, dan masih banyak kejadian-kejadian tak terduga lainnya yang setiap saat bisa membuat manusia beralih ke dunia yang lain.

Apa yang kau pikirkan dan rasakan seandainya tahu kalau hari esok sudah tak ada lagi? Bahagiakah atau sedihkah jika saat itu segera tiba?

Ketika bencana datang silih berganti di mana-mana, cukupkah itu sebagai peringatan? Atau, masih perlukah Ia memberikan teguran lain dengan cara kau mengalaminya sendiri?

Bersyukur jika hari ini masih diberi kesempatan 1 hari lagi untuk mempersiapkan diri.


“Just what you're thinking of,
If tomorrow never comes
”

- ronankeating


sent from @706

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayo sembuh !! You'll never walk alone

Jaman dulu, banyak orang bilang tuberkulosis alias TB adalah penyakit keturunan, penyakit karena guna-guna/ sihir, dan bahkan tidak bisa disembuhkan. Karena penyakit ini mudah menular, maka dulu banyak orang yang mengasingkan penderita TB , memisahkan perangkat makan dan minumnya, bahkan berusaha untuk tidak bergaul dekat-dekat dengan mereka. Dengan kata lain, penderita TB dikucilkan dari keluarga dan dari komunitas. Sedih banget ya? Sudah sakit, eh malah ditinggalkan begitu saja. Coba bayangkan kalau kita sendiri yang mengalami diperlakukan begitu..pasti ga mau kan? Bakteri penyebab TB yaitu Mycobacterium tuberculosis alias si Myco, adalah bakteri yang bisa dibilang bandel. Kenapa? Karena bakteri ini tidak bisa dibasmi kalau hanya menggunakan obat-obat biasa saja. Hingga April 2014, setiap tahun masih ada 67.000 kasus meninggal karena TB , atau sekitar 186 orang perhari, demikian pernah diungkapkan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Ke...

Nada untuk Asa – Review

Kamis ini, saya diajak nobar sebuah film drama yang berjudul “Nada untuk Asa” di mall terbesar di area Cikarang :). Kami sampai di bioskop kira-kira pukul 19.45 karena mengira filmnya dimulai pukul 20.00, namun ternyata di tiket masuk studio 2, tertulis bahwa film baru akan diputar pukul 20.50. Yaaah..tahu gitu tadi ga usah buru-buru berangkat. Minimal bisa rebahan dulu lah sehabis kerja berat seharian ini (lebay.com). Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Ita Sembiring ini, mengisahkan tentang perjuangan 2 wanita penderita HIV, yang berkeyakinan positif untuk tetap hidup di tengah pandangan negatif masyarakat, bahkan keluarganya sendiri. Berikut ini reviewnya. Cerita diawali dengan suatu siang yang cerah dalam acara pemakaman seorang laki-laki bernama Bobby. Bobby adalah seorang suami dari tokoh bernama Nada (diperankan Marsha Timothy), anak kedua dari 3 bersaudara yang seluruhnya perempuan. Sebelum meninggal, Bobby menderita penyakit kanker. Kar...

Oleh-oleh dari Cilincing

Sejujurnya, hari ini saya cuma ikutan alias jadi tim penggembira di tim survey ke Cilincing, Jakut. Cilincing? Ga salah itu tempatnya?? Ya, pokoknya sampe sana dulu lah.. Perjalanan ini dimulai dari Cikarang pukul 09.15, namun tim begitu baik hati sehingga ditambah 30 menit menjadi 09.45 :). Cuaca selama perjalanan agak gerimis, namun hal itu tidak terlalu masalah karena ternyata lalu lintas tidak macet. Kabar baik lainnya adalah perbekalan di dalam mobil tersedia dalam jumlah yang sangat cukup untuk kami :). Keluar tol Cilincing, kami menuju arah Merunda sambil mencari-cari jalan di sebelah kiri bernama “Kelapa dua” atau “Kelapa kembar”. Sudah hampir sampai ujung, kok nama jalannya ga ada? Masa iya nama jalannya ilang? Usut diusut, ternyata namanya bukan kelapa dua atau kelapa kembar, tetapi Cilincing Kelapa (beda nama dikit lah ya :p ). Setelah masuk ke jalan tersebut beberapa puluh meter, di sebelah kanan jalan ada papan nama bertuliskan “Atmabrata”. Itulah tempat...