Langsung ke konten utama

Hukum Stokes dan air hujan

Beberapa minggu terakhir ini cuaca di Cikarang berubah-ubah. Sebentar cerah menyengat, sebentar kemudian hujan amat deras. Bahkan jembatan di Cikarang Baru yang perbaikannya sudah hampir 90% selesai, juga sempat terendam air beberapa waktu lalu.
Kegalauan cuaca ini juga menyebabkan kondisi tubuh lebih rentan. Munculnya penderita flu, meriang (merindukan kasih sayang #eh) pun sedang berada pada grafik naik.
*Buat yang sedang sakit, ayo banyak makan yang sehat dan istirahat yang cukup ya, biar cepat sembuh.

Rabu kemarin saya mudik ke Green land alias Ngijoreja, sebuah kampung kecil di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (baca : Gunungkidul). Hari pertama sore hari langsung disambut hujan sangat deras. Saking derasnya, lokasi bekas penambangan batu kapur di dekat rumah simbah penuh air dan keruh.

Saya jadi teringat dulu waktu masih kecil, saya sering bermain air bersama sahabat masa kecil di lokasi yang serupa.
Kalau sehabis hujan, kedalaman air yang sebenarnya, tidak kelihatan karena airnya keruh bercampur lumpur. Kami biasanya tidak berani memasukkan kedua kaki dan berjalan karena kuatir jangan-jangan airnya dalam sehingga kami bisa tenggelam.
Makhlum, dulu kami anak gunung yang belum bisa berenang.

Setelah beberapa hari tidak turun hujan, barulah kami kembali lagi ke lokasi tersebut dan ternyata airnya sudah mulai jernih. Bagian dasarnya terlihat lebih jelas sehingga kami lebih yakin untuk memasukkan kaki ke air atau tidak.

lorentz777-bekas-tambang-batu-kapur


Belakangan setelah kuliah, saya baru menyadari kenapa air itu menjadi lebih jernih setelah dibiarkan beberapa hari.
Hukum Stokes mengatakan bahwa kecepatan pengendapan sebanding dengan ukuran partikel serta berbanding terbalik dengan kekentalannya. Makin besar ukuran partikel (zat padat tidak larutnya) maka makin cepat mengendap. Semakin encer cairan, partikel juga makin mudah mengendap.



Partikel lumpur dalam air di lokasi bekas tambang tadi berukuran kecil sedangkan cairannya tidak kental. Perlu waktu pendiaman beberapa hari untuk mengendapkan lumpur sehingga airnya lebih jernih.
Yang saya tekankan adalah proses pendiaman. Hanya melalui proses pendiaman dan gravitasi, airnya akan menjadi jernih. Aktivitas mengaduk atau mengobok-obok, baik dengan tangan, kaki, maupun hujan yang deras akan tetap menyisakan kubangan yang keruh.

Begitu juga dengan hidup manusia. Hanya dengan mengambil waktu untuk berdiam, semua kekeruhan dalam pikiran dapat mengendap. Sesudah itu, baru kita dapat melihat sesuatu dengan lebih jelas dan menentukan sikap yang lebih tepat. Saya rasa, setiap orang perlu meluangkan waktu untuk mengendapkan hal-hal dalam pikirannya. Atau setidaknya untuk memberi kesempatan kepada jiwa untuk menyusul raganya.


Original text sent from J5.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Menghargai dan memajukan obat tradisional Indonesia

Jika mendengar kata “jamu”, persepsi sebagian besar masyarakat akan langsung mengarah pada ramuan minuman dalam gelas, berwarna kecoklatan dengan aroma yang aneh, dan rasanya pahit. Biasanya jamu dijual oleh wanita yang menggunakan kain jarik, serta menggendong bakul besar berisi botol-botol ramuan, dan menawarkannya dari rumah ke rumah.  Itu tidak salah, namun pengertian jamu sebenarnya tidak hanya terbatas pada jamu gendong saja. Kini sudah cukup banyak industri yang memproduksi jamu, dalam bentuk seduhan, serbuk,   sirup, kapsul, tablet, dsb dengan tujuan untuk memudahkan mengkonsumsinya. Jika kita amati, meskipun cukup banyak jamu yang beredar di pasar, ternyata sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa jamu adalah produk nomor sekian dipilih untuk memelihara kesehatan atau menyembuhkan penyakit. Masyarakat lebih percaya pada kemanjuran obat-obat sintetik, meskipun itu tidak selalu benar. Salah satu penyebab obat tradisional kurang diminati, adalah kar...

Ayo sembuh !! You'll never walk alone

Jaman dulu, banyak orang bilang tuberkulosis alias TB adalah penyakit keturunan, penyakit karena guna-guna/ sihir, dan bahkan tidak bisa disembuhkan. Karena penyakit ini mudah menular, maka dulu banyak orang yang mengasingkan penderita TB , memisahkan perangkat makan dan minumnya, bahkan berusaha untuk tidak bergaul dekat-dekat dengan mereka. Dengan kata lain, penderita TB dikucilkan dari keluarga dan dari komunitas. Sedih banget ya? Sudah sakit, eh malah ditinggalkan begitu saja. Coba bayangkan kalau kita sendiri yang mengalami diperlakukan begitu..pasti ga mau kan? Bakteri penyebab TB yaitu Mycobacterium tuberculosis alias si Myco, adalah bakteri yang bisa dibilang bandel. Kenapa? Karena bakteri ini tidak bisa dibasmi kalau hanya menggunakan obat-obat biasa saja. Hingga April 2014, setiap tahun masih ada 67.000 kasus meninggal karena TB , atau sekitar 186 orang perhari, demikian pernah diungkapkan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Ke...