Langsung ke konten utama

Malu aku malu, pada semut merah

Pernahkah kalian mengalami atau setidaknya mengamati persiapan penyambutan orang "penting" seperti bos besar, menteri, atau presiden (yang mengundang biasanya kantor ya. Kalau saya mah apa atuh). Atau tidak usah orang besar deh. Bisa juga acara yang mengundang tetangga atau pengurus desa ke rumah.

Biasanya, persiapan dilakukan dengan cermat. Ibu-ibu akan menggunakan ilmu ekonominya dengan sebaik-baiknya, agar bisa menyuguhkan yang paling baik untuk tamu. Kalau perlu, minta tolong ke suami untuk mengecat ulang rumah supaya terlihat kinclong. Pokoknya bisa menyediakan yang terbaik untuk tamu.

Kalau tamunya cocok dengan penyambutan dan jamuannya, maka tidak akan ada komentar negatif. Semuanya beres, tuan rumah lega.

Tetapi bagaimana kalau tuan rumah sudah berupaya mengusahakan yang terbaik (sesuai tingkat ekonominya), tetapi tamu merasa agak kurang "sreg"? Umumnya, tuan rumah bisa merasakan hal itu, sehingga akan menyatakan permohonan maaf jika ada yang kurang berkenan. Kalau tamunya mempunyai status sosial yang tinggi, tuan rumah mungkin akan merasa agak tidak enak.

Untuk tamu yang memang kita sudah tahu kedudukan sosialnya saja, dan mungkin tidak jauh-jauh amat perbedaan sosialnya, kita bisa punya perasaan tidak enak. Merasa kurang layak. Ya, mirip lah seperti kalau kita diundang ke kondangan pernikahan anak bos besar, atau orang yang kita anggap jauh lebih tinggi kedudukannya. Bingung ngisi amplopnya (sambil nutup mata..sebelah).

Nah, sekarang coba bandingkan hal tersebut dengan praktek hidup keagamaan kita. Selama ini kita bilang (dan merasa) sudah melakukan upacara keagamaan ini itu, memberi waktu (yang dirasa sudah cukup), memberi materi (yang dirasa cukup kalau nanti ditotal dengan yang lain), dll, sebagai cara kita memuji/memuliakan sang Pencipta. Padahal kalau dipikir-pikir, sang Pencipta itu bukan hanya kedudukannya saja yang lebih tinggi daripada manusia. Semua hal yang akan kita berikan kepada-Nya, Ia sudah memilikinya bukan? Bahkan, yang akan kita berikan untuk memuji Dia, semuanya adalah milik-Nya. Ya, namanya saja sang Maha.

Jika dihitung-hitung, apa yang kita berikan sebenarnya sangatlah kecil atau tidak berarti apa-apa. Bahkan kalau kita memberikan semua milik kita; waktu, pikiran, harta, dan utang (eh, yang ini tidak usah dihitung), bisa jadi itu hanyalah setitik debu di hadapan-Nya.
Kalau begitu, apakah kita akan tetap merasa pongah jika sudah melakukan hal-hal tadi?

Malu aku malu,
pada semut merah...





(image source : clipartist.net)

Selamat tahun baru.

(ditulis sore-sore di awal tahun 2017)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidroponik trial 300520, 030620, 070620, 160620

Sekedar untuk menyimpan. Ini adalah dokumentasi foto-foto hidroponik yang diambil di Mei-Juni 2020. Beberapa tanaman masih trial awal, jadi hasilnya belum memuaskan.  Maaf jika tampilannya masih belum rapi. No. 1-7 = Foto 300520, 030620, 070620, 160620 secara berurutan. 1. Sawi Samhong, masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.        2. Sawi (kalau tidak salah), masih trial, awalnya kurang cahaya matahari.       3. Pakchoy & sawi (mix)     4. Pakchoy     5. Pakchoy   6.     (- belum difoto lagi) (-sudah dipanen) 7.   (blm difoto lagi)    (- sudah dipanen) 8. Foto hidroponik 070620, 160620 = A.    B.     C.  (pindah tanam 1 Juni 2020) D.  (pindah tanam 6 Juni 2020) E.       (ini adalah sisa-sisa trial yang belum berhasil ter...

Apa itu Opentrolley?

Siapa yang tidak tahu Amazon.com ? Sebuah toko buku online no.1 di dunia, yang dirintis “hanya” dari sebuah garasi rumah pendirinya sendiri, Jeff Bezos. Meski bisnis utamanya adalah penjualan buku, tetapi sekarang Amazon sudah juga menjual barang-barang lainnya, seperti CD, printer, atau produk elektronik lainnya. Hanya saja, cara pembayarannya yang diterima adalah menggunakan credit card Visa, Master, atau Paypal. Nah, buat yang tidak punya alat pembayaran seperti di atas (berarti sama dengan saya :p), tetapi ingin membeli buku yang belum (tidak) dijual di Indonesia, apa bisa? Jawabannya, “Bisa!”. Kalian bisa mencoba Opentrolley.co.id . Opentrolley sebenarnya adalah toko buku online yang berlokasi di Singapura, namun kini membuka cabang di Indonesia. Waktu saya mencoba browsing judul sebuah buku dan membandingkan harganya dengan beberapa toko buku online, memang harga di Opentrolley.co.id sedikit lebih mahal. Meski begitu, Opentrolley mempunyai kelebihan...

Myanmar : VoA atau visa-free?

Acara jalan-jalan ke tempat wisata selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan. Dari yang sekedar menengok saudara di Ragunan, main di Dufan, hingga jalan-jalan ke luar negeri, semuanya menjadi cara melepaskan kepenatan dari rutinitas sehari-hari. Apalagi kalau dibayarin, siapa yang ga mau? Nah, ngomong-ngomong soal jalan-jalan ke luar negeri, selain tiket pesawat (kalau naik pesawat), kita juga harus mempunyai paspor. Di Asia Tenggara, hampir sem ua negara ASEAN cukup menggunakan paspor dan telah membebaskan pengurusan visa untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke negaranya, namun tidak demikian dengan Myanmar. Untuk masuk ke Myanmar, selain mempunyai paspor, kita juga perlu mempunyai visa.  Apa itu visa ? Menurut wikipedia, visa adalah sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh sebuah negara memberikan seseorang izin untuk masuk ke negara tersebut dalam suatu periode waktu dan tujuan tertentu. Visa yang dimaksud untuk kunjungan wisata ke Myanmar disebut dengan Visa-on-Arrival ...