Langsung ke konten utama

Astagaaa!!!

Sambil berjalan pelan, dipegangnya erat bungkusan warna biru dan putih itu di tangan kirinya. Di bawah kuning temaram lampu jalan ia mematung sejenak, tak peduli pada siapapun yang berjalan ke sana kemari.

Tanpa secuilpun senyum, dipalingkannya wajahnya ke kanan. Dalam diam, wajahnya tetaplah menyisakan sebuah kisah dan rasa yang ingin menyeruak dari dasar hatinya. Hati yang seolah ingin berteriak, bukan bernyanyi, namun mulutnya tetap mengunci.

Riuh rendah manusia dan lalu lalang kuda jepang di sekitarnya tak mampu membuat telinganya merasa terlalu bising untuk tetap bisa mendengar suara yang terus berbicara kepada hatinya.

Iapun lalu segera melangkah cepat, seolah yakin dengan apa yang dilakukannya. Tiba-tiba muncul 2 motor dan 1 mobil yang melaju kencang ke arahnya. Tahu-tahu, jarak di antaranya hanya tinggal beberapa langkah saja. Ia pun jadi sedikit gemetar, lalu mundur selangkah. Mobil dan motor itu akhirnya melambat, maka diberanikanlah lagi ia melanjutkan langkahnya. Sungguh tak diduga, di belakang mobil tadi, muncul 3 motor yang melaju jauh lebih kencang ke arahnya. Astagaaa!!! Ini sudah di tengah-tengah jalan! Mau bagaimana lagi???

Aaaaahhh.. Memang tak seorangpun yang tahu apa yang sesungguhnya akan terjadi, meski hanya 1 menit atau bahkan 1 detik di depan kita.

...dan aku pun tak mampu melihatnya lagi.

(sent from @706)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayo sembuh !! You'll never walk alone

Jaman dulu, banyak orang bilang tuberkulosis alias TB adalah penyakit keturunan, penyakit karena guna-guna/ sihir, dan bahkan tidak bisa disembuhkan. Karena penyakit ini mudah menular, maka dulu banyak orang yang mengasingkan penderita TB , memisahkan perangkat makan dan minumnya, bahkan berusaha untuk tidak bergaul dekat-dekat dengan mereka. Dengan kata lain, penderita TB dikucilkan dari keluarga dan dari komunitas. Sedih banget ya? Sudah sakit, eh malah ditinggalkan begitu saja. Coba bayangkan kalau kita sendiri yang mengalami diperlakukan begitu..pasti ga mau kan? Bakteri penyebab TB yaitu Mycobacterium tuberculosis alias si Myco, adalah bakteri yang bisa dibilang bandel. Kenapa? Karena bakteri ini tidak bisa dibasmi kalau hanya menggunakan obat-obat biasa saja. Hingga April 2014, setiap tahun masih ada 67.000 kasus meninggal karena TB , atau sekitar 186 orang perhari, demikian pernah diungkapkan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Ke...

Nada untuk Asa – Review

Kamis ini, saya diajak nobar sebuah film drama yang berjudul “Nada untuk Asa” di mall terbesar di area Cikarang :). Kami sampai di bioskop kira-kira pukul 19.45 karena mengira filmnya dimulai pukul 20.00, namun ternyata di tiket masuk studio 2, tertulis bahwa film baru akan diputar pukul 20.50. Yaaah..tahu gitu tadi ga usah buru-buru berangkat. Minimal bisa rebahan dulu lah sehabis kerja berat seharian ini (lebay.com). Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Ita Sembiring ini, mengisahkan tentang perjuangan 2 wanita penderita HIV, yang berkeyakinan positif untuk tetap hidup di tengah pandangan negatif masyarakat, bahkan keluarganya sendiri. Berikut ini reviewnya. Cerita diawali dengan suatu siang yang cerah dalam acara pemakaman seorang laki-laki bernama Bobby. Bobby adalah seorang suami dari tokoh bernama Nada (diperankan Marsha Timothy), anak kedua dari 3 bersaudara yang seluruhnya perempuan. Sebelum meninggal, Bobby menderita penyakit kanker. Kar...

Oleh-oleh dari Cilincing

Sejujurnya, hari ini saya cuma ikutan alias jadi tim penggembira di tim survey ke Cilincing, Jakut. Cilincing? Ga salah itu tempatnya?? Ya, pokoknya sampe sana dulu lah.. Perjalanan ini dimulai dari Cikarang pukul 09.15, namun tim begitu baik hati sehingga ditambah 30 menit menjadi 09.45 :). Cuaca selama perjalanan agak gerimis, namun hal itu tidak terlalu masalah karena ternyata lalu lintas tidak macet. Kabar baik lainnya adalah perbekalan di dalam mobil tersedia dalam jumlah yang sangat cukup untuk kami :). Keluar tol Cilincing, kami menuju arah Merunda sambil mencari-cari jalan di sebelah kiri bernama “Kelapa dua” atau “Kelapa kembar”. Sudah hampir sampai ujung, kok nama jalannya ga ada? Masa iya nama jalannya ilang? Usut diusut, ternyata namanya bukan kelapa dua atau kelapa kembar, tetapi Cilincing Kelapa (beda nama dikit lah ya :p ). Setelah masuk ke jalan tersebut beberapa puluh meter, di sebelah kanan jalan ada papan nama bertuliskan “Atmabrata”. Itulah tempat...