Langsung ke konten utama

Memilih kerikil

Seorang pemulung yang baru beberapa minggu di Jakarta, berjalan sambil mengais di antara tumpukan sampah, barangkali ada sesuatu yang masih bisa ia kumpulkan untuk dijual. Meski mentari sudah mulai tenggelam, ia tetap melanjutkan langkah, hingga akhirnya ia tiba di sebuah kawasan proyek pembangunan super mall.

Kawasan itu sudah mulai sepi karena para pekerja sudah banyak yang pulang, terlebih karena itu hari Jumat. Ia duduk-duduk di beton, bersandar di tiang penyangga, sambil mengusir dahaga dari sebotol air minum yang dibawanya dari rumah (baca : gubuk).

Tiba-tiba datang beberapa laki-laki berbadan kekar menghampiri. "Heh, siapa kamu? Ngapain di situ?". 

"Maap, saya cuma numpang istirahat sebentar kok." 

"Kamu orang baru kan? Tahu nggak, kalau nyari duit di daerah ini mesti setor saya. Ayo, mana setorannya?"

"Maap, tapi saya aja cuma dapat uang sedikit, buat hidup sehari-hari."

"Oh..jadi kamu mau melawan. Belum tahu rasanya dihajar kamu?".

"Ampun...ampun".

Anak pemulung itu ternyata ada dekat bangunan sebelah, dan diam-diam mendengarkan pembicaraan. Meski takut, ia akhirnya datang kepada ayahnya, dan memohon supaya mereka melepaskan ayahnya. 

"Heii..anak kecil. Aku hargai usahamu memohon. Hahahaha..", terdengar tawanya angkuh. 

"Begini saja. Kita main-main dulu. Aku akan menaruh 2 kerikil di saku jaket ini (sambil menunjuk), lalu kamu harus ambil 1. Kalau kamu ambil kerikil hitam, berarti kalian harus setor, kalau tidak, kalian akan kami hajar. Kalau kamu bisa ambil kerikil putih, kalian boleh bebas. Gimana? Hahahaha...".

Anak itu kelihatan makin gugup tapi akhirnya mengiyakan tawaran. 

Preman itu memungut 2 kerikil di tanah lalu segera memasukkannya ke saku jaketnya. Si anak secara tidak sengaja melihat, ternyata kerikil yang dimasukkan, dua-duanya hitam. Tetapi dia tidak berani melawan atau membantah karena takut nanti malah dihajar duluan. 

"Nah, sekarang ambillah 1 kerikil!", kata preman itu dilanjutkan tawa dengan nada mengejek. 

Seandainya kamu adalah anak pemulung yang berada pada posisi itu, apa yang akan kamu lakukan supaya bisa lepas dari jeratan preman? 

Pakai cara yang cerdik ya, bukan pakai otot.. :p #EdisiMikirCerdik


sent from @706

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayo sembuh !! You'll never walk alone

Jaman dulu, banyak orang bilang tuberkulosis alias TB adalah penyakit keturunan, penyakit karena guna-guna/ sihir, dan bahkan tidak bisa disembuhkan. Karena penyakit ini mudah menular, maka dulu banyak orang yang mengasingkan penderita TB , memisahkan perangkat makan dan minumnya, bahkan berusaha untuk tidak bergaul dekat-dekat dengan mereka. Dengan kata lain, penderita TB dikucilkan dari keluarga dan dari komunitas. Sedih banget ya? Sudah sakit, eh malah ditinggalkan begitu saja. Coba bayangkan kalau kita sendiri yang mengalami diperlakukan begitu..pasti ga mau kan? Bakteri penyebab TB yaitu Mycobacterium tuberculosis alias si Myco, adalah bakteri yang bisa dibilang bandel. Kenapa? Karena bakteri ini tidak bisa dibasmi kalau hanya menggunakan obat-obat biasa saja. Hingga April 2014, setiap tahun masih ada 67.000 kasus meninggal karena TB , atau sekitar 186 orang perhari, demikian pernah diungkapkan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Ke...

Nada untuk Asa – Review

Kamis ini, saya diajak nobar sebuah film drama yang berjudul “Nada untuk Asa” di mall terbesar di area Cikarang :). Kami sampai di bioskop kira-kira pukul 19.45 karena mengira filmnya dimulai pukul 20.00, namun ternyata di tiket masuk studio 2, tertulis bahwa film baru akan diputar pukul 20.50. Yaaah..tahu gitu tadi ga usah buru-buru berangkat. Minimal bisa rebahan dulu lah sehabis kerja berat seharian ini (lebay.com). Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Ita Sembiring ini, mengisahkan tentang perjuangan 2 wanita penderita HIV, yang berkeyakinan positif untuk tetap hidup di tengah pandangan negatif masyarakat, bahkan keluarganya sendiri. Berikut ini reviewnya. Cerita diawali dengan suatu siang yang cerah dalam acara pemakaman seorang laki-laki bernama Bobby. Bobby adalah seorang suami dari tokoh bernama Nada (diperankan Marsha Timothy), anak kedua dari 3 bersaudara yang seluruhnya perempuan. Sebelum meninggal, Bobby menderita penyakit kanker. Kar...

Oleh-oleh dari Cilincing

Sejujurnya, hari ini saya cuma ikutan alias jadi tim penggembira di tim survey ke Cilincing, Jakut. Cilincing? Ga salah itu tempatnya?? Ya, pokoknya sampe sana dulu lah.. Perjalanan ini dimulai dari Cikarang pukul 09.15, namun tim begitu baik hati sehingga ditambah 30 menit menjadi 09.45 :). Cuaca selama perjalanan agak gerimis, namun hal itu tidak terlalu masalah karena ternyata lalu lintas tidak macet. Kabar baik lainnya adalah perbekalan di dalam mobil tersedia dalam jumlah yang sangat cukup untuk kami :). Keluar tol Cilincing, kami menuju arah Merunda sambil mencari-cari jalan di sebelah kiri bernama “Kelapa dua” atau “Kelapa kembar”. Sudah hampir sampai ujung, kok nama jalannya ga ada? Masa iya nama jalannya ilang? Usut diusut, ternyata namanya bukan kelapa dua atau kelapa kembar, tetapi Cilincing Kelapa (beda nama dikit lah ya :p ). Setelah masuk ke jalan tersebut beberapa puluh meter, di sebelah kanan jalan ada papan nama bertuliskan “Atmabrata”. Itulah tempat...