Langsung ke konten utama

Kapan periksa??

Beberapa hari yang lalu, ada teman yang terlambat ke kantor gara-gara kendaraannya mogok di jalan. Usut punya usut, ternyata memang kendaraannya jarang diservis atau bahkan tidak sama sekali selama setahun terakhir.

Sebenarnya, seberapa sering sih kalian servis kendaraan? Pasti beragam jawabnya.
Ada yang tiap beberapa bulan sekali, ada juga yang berpatokan jarak tempuh kendaraan, atau ada juga yang melakukannya setelah kendaraan dirasa sudah tidak nyaman lagi dikendarai. Apapun cara yang dipilih, semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu agar kendaraan tetap “sehat” sehingga bisa berfungsi baik dan nyaman digunakan. Yah, paling tidak lancar dipakai saat berangkat kerja atau ketika pergi liburan. Kan tidak lucu juga, mau senang-senang liburan, eh malah mogok.
Ada yang sangat detil pada spare part kendaraannya, tahu kapan kondisinya sudah tidak layak dan perlu diganti. Kapan harus ganti oli, kapan harus cek level air aki, dsb.


Kalau bicara tentang perawatan, tubuh manusia pasti juga butuh perawatan. Gigi misalnya.
Sekarang pasti banyak yang sudah mulai memperhatikan giginya demi kesehatan (padahal karena takut sakit gigi lagi). Rajin menyikat gigi, kalau perlu masih dilanjutkan mouthwash, rajin ke dokter gigi, dsb. 



Banyak di antara kita begitu cermat dan peduli pada “kesehatan” kendaraan, ataupun kesehatan gigi. Tetapi, apakah sobat juga cukup peduli pada kondisi emosi dan mental sendiri?
Kita merawat kendaraan dengan sebaik-baiknya, merawat gigi supaya tidak sakit, tetapi banyak dari kita hampir tidak cermat memperhatikan sikap yang sudah mempengaruhi kesehatan mental.

Kapan terakhir kali sobat memeriksa oli kendaraan, atau kapan terakhir kali sobat periksa gigi?
Kapan terakhir kali kita melakukan pemeriksaan dan penyesuaian pada sikap?

Ketika indikator bahan bakar di mobil/motor hampir menyentuh huruf E alias empty atau entek, sobat pasti akan pergi ke SPBU untuk mengisi bahan bakar lagi supaya bisa melanjutkan perjalanan (atau kalau terpaksa ya ngecer di pinggir kali, eh jalan).
Ketika baterai smartphone sobat sudah hampir habis, tentu sobat akan men-charge nya lagi supaya bisa terus digunakan, entah dari sumber listrik langsung, ataupun dari powerbank. 

Nah pertanyaannya, apakah saat emosi dan sikap sobat merosot atau mengalami penurunan, apa juga mencari cara untuk menyegarkannya lagi? Saat ada sesuatu yang sepertinya salah dengan sikap/mental, apakah segera memeriksa diri?

Setiap orang punya bekal cadangan akan kenangan dan hal-hal positif selama hidupnya, namun seringkali lebih sering melihat dan mengarahkan pada hal yang berbau negatif daripada mengisi pikiran dengan positif, sesuatu yang lebih memberdayakan. Lihatlah kembali kisah hidup yang baik, yang menyenangkan, mungkin itu adalah tentang keluarga dan orang terdekat, atau sesuatu ketika masih kanak-kanak dan sekolah, ketika berhasil melalui ujian akhir yang menegangkan, ketika pertama kali diterima bekerja, ataupun sesuatu yang lain meskipun bukanlah hal yang besar dan mencolok. Cukup sesuatu yang mengingatkan bahwa kita masih mempunyai hal yang baik, yang patut untuk disyukuri, untuk terus dipelihara. 



Komentar

Anonim mengatakan…
Bahagia itu bisa dibuat Sederhana.. Dengan cara Bersyukur buat segala sesuatu yg kita miliki saat ini

Postingan populer dari blog ini

Ayo sembuh !! You'll never walk alone

Jaman dulu, banyak orang bilang tuberkulosis alias TB adalah penyakit keturunan, penyakit karena guna-guna/ sihir, dan bahkan tidak bisa disembuhkan. Karena penyakit ini mudah menular, maka dulu banyak orang yang mengasingkan penderita TB , memisahkan perangkat makan dan minumnya, bahkan berusaha untuk tidak bergaul dekat-dekat dengan mereka. Dengan kata lain, penderita TB dikucilkan dari keluarga dan dari komunitas. Sedih banget ya? Sudah sakit, eh malah ditinggalkan begitu saja. Coba bayangkan kalau kita sendiri yang mengalami diperlakukan begitu..pasti ga mau kan? Bakteri penyebab TB yaitu Mycobacterium tuberculosis alias si Myco, adalah bakteri yang bisa dibilang bandel. Kenapa? Karena bakteri ini tidak bisa dibasmi kalau hanya menggunakan obat-obat biasa saja. Hingga April 2014, setiap tahun masih ada 67.000 kasus meninggal karena TB , atau sekitar 186 orang perhari, demikian pernah diungkapkan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Ke...

Nada untuk Asa – Review

Kamis ini, saya diajak nobar sebuah film drama yang berjudul “Nada untuk Asa” di mall terbesar di area Cikarang :). Kami sampai di bioskop kira-kira pukul 19.45 karena mengira filmnya dimulai pukul 20.00, namun ternyata di tiket masuk studio 2, tertulis bahwa film baru akan diputar pukul 20.50. Yaaah..tahu gitu tadi ga usah buru-buru berangkat. Minimal bisa rebahan dulu lah sehabis kerja berat seharian ini (lebay.com). Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Ita Sembiring ini, mengisahkan tentang perjuangan 2 wanita penderita HIV, yang berkeyakinan positif untuk tetap hidup di tengah pandangan negatif masyarakat, bahkan keluarganya sendiri. Berikut ini reviewnya. Cerita diawali dengan suatu siang yang cerah dalam acara pemakaman seorang laki-laki bernama Bobby. Bobby adalah seorang suami dari tokoh bernama Nada (diperankan Marsha Timothy), anak kedua dari 3 bersaudara yang seluruhnya perempuan. Sebelum meninggal, Bobby menderita penyakit kanker. Kar...

Oleh-oleh dari Cilincing

Sejujurnya, hari ini saya cuma ikutan alias jadi tim penggembira di tim survey ke Cilincing, Jakut. Cilincing? Ga salah itu tempatnya?? Ya, pokoknya sampe sana dulu lah.. Perjalanan ini dimulai dari Cikarang pukul 09.15, namun tim begitu baik hati sehingga ditambah 30 menit menjadi 09.45 :). Cuaca selama perjalanan agak gerimis, namun hal itu tidak terlalu masalah karena ternyata lalu lintas tidak macet. Kabar baik lainnya adalah perbekalan di dalam mobil tersedia dalam jumlah yang sangat cukup untuk kami :). Keluar tol Cilincing, kami menuju arah Merunda sambil mencari-cari jalan di sebelah kiri bernama “Kelapa dua” atau “Kelapa kembar”. Sudah hampir sampai ujung, kok nama jalannya ga ada? Masa iya nama jalannya ilang? Usut diusut, ternyata namanya bukan kelapa dua atau kelapa kembar, tetapi Cilincing Kelapa (beda nama dikit lah ya :p ). Setelah masuk ke jalan tersebut beberapa puluh meter, di sebelah kanan jalan ada papan nama bertuliskan “Atmabrata”. Itulah tempat...