Langsung ke konten utama

Book of life

Hidup itu seperti sebuah buku.
Cover depan adalah tanggal lahir /awal kehidupan, sedangkan cover belakang adalah akhir kehidupan.

Setiap lembaran adalah tiap hari yang kita lalui, dan berisi apa saja yang kita lakukan.
Uniknya, semua kisah tercatat secara otomatis dan tak ada satupun terlewat dituliskan.

Ada buku yang hanya terdiri dari beberapa lembar, tetapi ada juga buku yang tebal.




Ini adalah buku....bukan komputer.
Sekali halaman tertulis, tidak bisa diedit lagi.

Tapi sungguh mengagumkan, 
Sekotor dan seburuk apapun lembaran sebelumnya, selalu ada lembaran baru yang bersih..ya sungguh bersih. Begitu pula seburuk apapun perbuatan kita kemarin, Sang Pemilik Kehidupan masih menyediakan hari baru untuk kita.

Kesempatan baru untuk melakukan yang baik, yang benar.
Kesempatan untuk melanjutkan alur cerita hingga sampai kesudahannya.

Setelah buku ditutup, seperti pada umumnya buku kerja atau buku tugas, maka akan dikumpulkan dan diserahkan kepada guru/dosen untuk dinilai. Begitu pula yang akan dilakukan Sang Pemilik Kehidupan.

Jika hari ini kita masih diberi lembaran hidup, mari syukuri sebaik-baiknya. Jangan lupa untuk bertanya, apa yang harus dituliskan hari ini, esok, dst, agar ketika halaman terakhir selesai, kita didapati layak di hadapan Nya.

Selamat menulis di buku kehidupan.


sent from @706

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayo sembuh !! You'll never walk alone

Jaman dulu, banyak orang bilang tuberkulosis alias TB adalah penyakit keturunan, penyakit karena guna-guna/ sihir, dan bahkan tidak bisa disembuhkan. Karena penyakit ini mudah menular, maka dulu banyak orang yang mengasingkan penderita TB , memisahkan perangkat makan dan minumnya, bahkan berusaha untuk tidak bergaul dekat-dekat dengan mereka. Dengan kata lain, penderita TB dikucilkan dari keluarga dan dari komunitas. Sedih banget ya? Sudah sakit, eh malah ditinggalkan begitu saja. Coba bayangkan kalau kita sendiri yang mengalami diperlakukan begitu..pasti ga mau kan? Bakteri penyebab TB yaitu Mycobacterium tuberculosis alias si Myco, adalah bakteri yang bisa dibilang bandel. Kenapa? Karena bakteri ini tidak bisa dibasmi kalau hanya menggunakan obat-obat biasa saja. Hingga April 2014, setiap tahun masih ada 67.000 kasus meninggal karena TB , atau sekitar 186 orang perhari, demikian pernah diungkapkan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Ke...

Nada untuk Asa – Review

Kamis ini, saya diajak nobar sebuah film drama yang berjudul “Nada untuk Asa” di mall terbesar di area Cikarang :). Kami sampai di bioskop kira-kira pukul 19.45 karena mengira filmnya dimulai pukul 20.00, namun ternyata di tiket masuk studio 2, tertulis bahwa film baru akan diputar pukul 20.50. Yaaah..tahu gitu tadi ga usah buru-buru berangkat. Minimal bisa rebahan dulu lah sehabis kerja berat seharian ini (lebay.com). Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Ita Sembiring ini, mengisahkan tentang perjuangan 2 wanita penderita HIV, yang berkeyakinan positif untuk tetap hidup di tengah pandangan negatif masyarakat, bahkan keluarganya sendiri. Berikut ini reviewnya. Cerita diawali dengan suatu siang yang cerah dalam acara pemakaman seorang laki-laki bernama Bobby. Bobby adalah seorang suami dari tokoh bernama Nada (diperankan Marsha Timothy), anak kedua dari 3 bersaudara yang seluruhnya perempuan. Sebelum meninggal, Bobby menderita penyakit kanker. Kar...

Oleh-oleh dari Cilincing

Sejujurnya, hari ini saya cuma ikutan alias jadi tim penggembira di tim survey ke Cilincing, Jakut. Cilincing? Ga salah itu tempatnya?? Ya, pokoknya sampe sana dulu lah.. Perjalanan ini dimulai dari Cikarang pukul 09.15, namun tim begitu baik hati sehingga ditambah 30 menit menjadi 09.45 :). Cuaca selama perjalanan agak gerimis, namun hal itu tidak terlalu masalah karena ternyata lalu lintas tidak macet. Kabar baik lainnya adalah perbekalan di dalam mobil tersedia dalam jumlah yang sangat cukup untuk kami :). Keluar tol Cilincing, kami menuju arah Merunda sambil mencari-cari jalan di sebelah kiri bernama “Kelapa dua” atau “Kelapa kembar”. Sudah hampir sampai ujung, kok nama jalannya ga ada? Masa iya nama jalannya ilang? Usut diusut, ternyata namanya bukan kelapa dua atau kelapa kembar, tetapi Cilincing Kelapa (beda nama dikit lah ya :p ). Setelah masuk ke jalan tersebut beberapa puluh meter, di sebelah kanan jalan ada papan nama bertuliskan “Atmabrata”. Itulah tempat...